Pencemaran Nama Baik, ASA Sebut Penanganan Pasien Atas Perintah dr.Lidya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, SURABAYA –

Empat saksi dihadirkan dalam kasus pencemaran nama baik dan fitnah dengan terdakwa Dokter Sudjarno, mantan direktur Rumah Sakit Mata Undaan. Mereka adalah dr Lidya Nuradianti, dr Sahata Poltak Hamonangan Napitupulu, dr Ria Silvia dan Perawat Angga Surya Arsana.

Dihadapan majelis hakim, dr Sahata Poltak Hamonangan Napitupulu dalam kesaksiannya membenarkan telah memberikan rekomendasi kepada terdakwa atas pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dan Disiplin yang dilakukan dr Lidya Nuradianti (saksi pelapor).

Namun oleh terdakwa, rekomendasi dari tim komite medik dirubah dengan menyebut dr Lidya Nuradianti melakukan pelanggaran prosedur kerja serta etika dan profesi.

“Rekomendasinya melanggar SOP dan Disiplin.Kalau itu dirubah saya tidak tau, itu kewenangan Direktur,” terangnya.

Menurutnya, dasar rekomendasi yang diberikan tersebut bermula dari komplain pasien bernama Alesandra Sesha yang tidak terima karena tindakan operasi bukan dilakukan oleh dr Lidya melainkan oleh perawat bernama Angga Surya Arsana.

“Rekomendasi diberikan setelah melakukan klarifikasi,” ujarnya.

Sementara itu saksi Lidya Nuradianti mengaku sangat dirugikan. Surat teguran itu berdampak pada citranya sebagai dokter mata, terlebih Ia dinyatakan tidak terbukti melakukan pelanggaran kode etik kedokteran oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) Surabaya.

“Surat teguran itu baru dicabut saat adanya laporan ke Polisi,” ungkapnya.

Saat ditanya oleh tim penasehat hukum terdakwa dr Sudjarno terkait adanya upaya banding atas putusan MKEK IDI Surabaya ke Pusat, Lidya mengaku tidak tau.

“Saya tidak tau, tapi memang ada klarifikasi dari pusat atas laporan Direktur,” katanya.

Selain dr Sahata Poltak Hamonangan Napitupulu dan saksi pelapor, JPU Kejari Tanjung Perak I Gede Willy Pramana dan Yusuf Akbar menghadirkan Wadir Pelayanan RSMU, dr Ria Silvia dan Perawat Angga Surya Arsana yang intinya membenarkan adanya komplain dari pasien.

Atas komplain tersebut, RSMU mengaku telah memberikan uang damai sebesar Rp 400 juta agar tidak melakukan tuntutan hukum.

“Saya tidak tau jumlahnya,” kata saksi Ria Silvia menjawab pertanyaan tim penasehat hukum terdakwa.

Keterangan Ria sempat dipertanyakan  ketua majelis hakim Cokorda Gede Arthana, Namun Ria tetap mempertahankan keterangannya.

“Anda sebagai Wakil Direktur Pelayanan lho, masak tidak tau uang itu untuk apa, uang damai kah atau mengganti kerugian,” tanya hakim Cokorda.

“Saya tidak tau karena tidak dilibatkan,” jawab Ria.

Sedangkan sang perawat, Angga Surya Arsana mengaku jika operasi ke pasien Alesandra Sesha dilakukan karena ada mandat dari dr Lidya.

“Karena dr Lidya sedang melakukan operasi pasien lainya,” ungkapnya.

Persidangan perkara ini akan dilanjutkan satu pekan mendatang dengan agenda masih mendengarkan keterangan saksi lainnya.

Diketahui, Kasus dugaan fitnah ini dilaporkan oleh dr Lidya Nuradianti ke Polrestabes Surabaya. Dia tidak terima lantaran dituduh telah melanggar kode etik dan profesi kedokteran melalui surat teguran tertulis yang dibuat oleh terdakwa saat menjatuhkan sanksi.

Tuduhan tersebut dianggap saksi pelapor tidak berdasar, karena saat sanksi dijatuhkan, Lidya merasa tidak pernah melakukan pelanggaran etika dan profesi dan diperkuat oleh putusan 

keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Nomor : 06/MKEK/IDI-SBY/VII/2018 Tanggal 20 Agustus 2018.

Dalam kasus ini, terdakwa didakwa melanggar Pasal 310 ayat (2) KUHP dan pasal 311 ayat (1) KUHP.

HARIFIN

Share.

About Author

Leave A Reply