Share Foto Mengerikan Langgar Kode Etik Jurnalistik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Radar Online.id, JAKARTA – Jaman sekarang semua ingin eksis di sosmed? Salah satu cara yang paling sering dipilih adalah rajin update dengan kejadian – kejadian yang ada, bahkan ikut berperan pula sebagai salah satu penyebar informasi terbaru. Dan bermunculanlah “wartawan dadakan” atau biasa disebut citizen journalism (jurnalisme warga).

Kerjanya gampang, pas ada peristiwa atau informasi terbaru langsung disebar lewat sosmed, kalau bisa sertakan foto, upload ke akun sosmed, dan jadilah sebuah berita.

Dampak buruknya, banyak orang yang suka nyebar – nyebar hal yang tidak seharusnya dipublikasikan, dengan alasan untuk menyebarkan berita.

Lewat medsos kita bisa memperoleh berita mengenai kecelakaan yang terjadi di sebuah daerah secara ditail, mulai dari lokasi kejadian, kendaraan, hingga foto korban yang berdarah – darah.

Hal serupa juga terjadi jika ada kasus pembunuhan, perampokan, pembacokan, dan ragam jenis kejahatan mengerikan lainnya.

Perlu kita ketahui bahwa bentuk postingan seperti itu yang menampilkan gambar – gambar mengerikan seperti korban kekarasan dengan luka – luka berdarah, orang yang dibacok, mayat korban kecelakaan yang kepalanya meleber dan ususnya terburai dan lain – lain adalah bukan hal yang patut ditampilkan sebagai sebuah berita.

Secara Etika hal tersebut merupakan suatu bentuk tindakan yang tidak bermoral, karena menampilkan gambar yang tidak menunjukkan sisi kemanusiaan kita sama sekali.

Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan si korban ataupun keluarganya melihat gambar tersebut dengan leluasa bertebaran di sosmed.
Apakah kita tidak malu, sedih. ataupun sakit hati? Untung apa pula kita menyebarkan foto mengerikan tersebut?

Apakah dengan kata – kata tidak cukup menggambarkan sebuah informasi ataupun berita terbaru yang sedang terjadi? Sayangnya kita belum paham tentang hal itu.

Apalagi jika gambar yang kita sebarkan itu dilihat oleh orang yang memiliki trauma dengan hal – hal seperti itu. Jiwa mereka bisa terguncang, bisakah kita bertanggung jawab jika hal itu terjadi pada mereka?

Satu hal lagi, mengenai orang dengan kecacatan. Seringkali kita seenaknya mengambil gambar mereka lalu meng-upload gambar mereka di sosmed, dengan alasan biar orang – orang lain melihat mereka, kemudian tergerak untuk membantu.

Jiwa sosial yang patut dibanggakan tetapi bukan seperti itu cara penyampaiannya, ada aturan – aturan tertentu mengenai hal – hal tersebut, teman.

Di sisi lain, bukan hanya etika dan rasa kemanusiaan saja yang tidak memperbolehkan kita untuk menyebarluaskan foto berita yang berisi konten mengerikan itu, tetapi ada hukum yang mengikat juga.

Dalam kaitannya dengan foto yang diunggah sebagai berita, perlu kita ketahui bahwa ada Kode Etik Jurnalistik yang mengatur hal tersebut. Kita harus paham betul mengenai hal ini.

Secara hukum kita bisa dituntut, karena itu sudah melanggar kode etik pers yang seharusnya tidak boleh menyebarkan gambar yang sadis, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan (pasal 4 Kode Etik Jurnalistik).

Kode Etik Jurnalistik adalah hal yang menjamin agar setiap kegiatan pemberitaan dan peliputan yang dilakukan tidak melanggar nilai – nilai, norma serta etika dan rasa kemanusiaan.

Dalam hal ini foto – foto yang yang mengerikan tersebut seharusnya tidak boleh ditampilkan sebagai pelengkap berita.

Kalaupun ditampilkan, maka foto tersebut harus disamarkan. Hal yang sama pun berlaku pada siaran televisi baik itu visual maupun audio visual.

Ketentuan Penyiaran di Televisi juga melarang untuk menayangkan hal – hal seperti itu. Itulah kenapa setiap ada berita yang ada unsur kekerasan dan muatan yang sadis itu selalu gambarnya diburamkan.

Lemahnya kita adalah karena saat ini belum ada regulasi yang tepat mengenai aturan penyampaian berita melalui media internet, termasuk pula sosial media.

Pemerintah belum berupaya untuk membuat sebuah peraturan yang jelas, sehingga sampai saat ini pun masih ada saja orang – orang yang seenaknya mempublikasikan gambar gambar sadis tersebut lewat sosial media. Alih – alih untuk memberitakan sebuah peristiwa.

Tetapi menurut saya, dengan tidak adanya regulasi yang paten pun seharusnya kita sebagai manusia yang bermoral sudah tau bahwa foto – foto yang bermuatan kekerasan dan sadisme itu tidak seharusnya kita ungkap ke sosmed, apapun alasannya. Kita ini manusia yang punya rasa, punya nilai, yang tahu baik buruknya sesuatu hal.

Dan bagi saya, mempublikasikan hal – hal seperti itu di seosial media merupakan sebuah bentuk kejahatan moral yang sama sadisnya dengan pembunuhan! sekalipun tujuanmu baik, tetapi cara kamu melakukannya adalah sebuah kesalahan besar.(Osran Simanjuntak)

Share.

Comments are closed.