Aspidsus Didik Farkhan Awalnya Wartawan Kini Melenggang ke Kejaksaan Agung

Aspidsus Didik Farkhan Awalnya Wartawan Kini Melenggang ke Kejaksaan Agung

RadarOnline.id, SURABAYA – Garis hidup manusia memang tak bisa ditebak. Sempat menjalani profesi sebagai wartawan, namun siapa sangka Farkhan Alisyahdi yang biasa dipanggil Didik itu sebantar lagi akan duduk sebagai pejabat di “Gedung Bundar” Kejaksaan Agung.

Saat ini, Didik tinggal menghitung hari untuk meninggalkan jabatan Aspidsus Kejati Jatim dan terbang ke Jakarta menempati posisi barunya, sebagai Koordinator Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung.

Bagi Didik, tak pernah tak pernah terbanyangkan bekerja sebagai jaksa apalagi ditempatkan di Kejaksaan Agung. Apalagi jika mengenang masa kecilnya di Bojonegoro dengan kondisi dan fasilitas pendidikan serba terbatas.

“ Tidak pernah mimpi. Saya ini cah ndeso. Sekolah SD saja dulu baru pakai sepatu saat kelas 4 SD. Di daerah saya di Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Bojonegoro dulu tahun 1977, anak-anak ke sekolah masih banyak yang nyeker. Tidak satupun di keluarga saya baik dari garis ayah dan ibu itu pegawai di kejaksaan, ” kenang Didik.

Awalnya, pria asal Bojonegoro, 18 Oktober 1971 justru sempat menjadi wartawan meski tidak lama, hanya tiga bulan. Saat itu bergabung dengan Harian Memorandum pada tahun 1993. Hobinya memang menulis dan aktif di Pers Kampus saat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang.

Namun jalan hidup berubah, ayahnya meminta untuk mendaftar sebagai jaksa.

“ Saat berjalan dua bulan jadi wartawan ada lowongan di Kejaksaan. Ayah saya yang antusias pengin saya ikut mendaftar, ” kenang Didik.

Setelah ikut mendaftar sebagai jaksa, tujuh tahap tes dia jalani selama delapan bulan. Saat proses tes berlangsung, Didik tetap aktif sebagai wartawan dan mengirim berita. Dari ribuan pelamar, nama Didik termasuk dari 150 calon jaksa yang dinyatakan lulus.

“Sejak tahun 1994 saya gabung di Kejaksaan dan berhenti jadi wartawan, ” ujar Didik yang sempat menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Kampus “Manifest” ini.

Bekal pengalaman menjadi wartawan meski sesaat ternyata cukup berguna saat menjalani karier barunya sebagai jaksa. Sebab, profesi wartawan menurutnya hampir punya kesamaan dengan jaksa.

“Kalau wartawan kerjanya mencecar pertanyaan ke narasumber, jaksa mencecar kepada tersangka atau terdakwa. Apalagi kalau jadi jaksa di bidang intelijen, itu malah pekerjaannya 11-12 dengan wartawan. Sama-sama mencari informasi untuk diolah. Sama-sama kemudian membuat laporan. Cuma kalau jaksa intel produknya laporan intel, kalau wartawan produknya berita. Bisa straight news atau feature, ” ujar mantan Kajari Surabaya ini.

Tak butuh waktu lama, kariernya sebagai jaksa langsung melesat. Dimulai bertugas sebagai jaksa di Bojonegoro, hingga akhrinya menjabat Kajari Surabaya sebelum bertugas Aspidus Kejati Jatim. Segudang prestasi juga dicatatkan.

Salah satunya, membuat gebrakan dengan menyelamatkan aset-aset Pemkot Surabaya. Tercatat, lima aset yang ditangani Kejati Jatim bisa bali ke Pemkot. Dimulai dari aset Gelora Pancasila senilai NJOP Rp 183 miliar.

Kemudian Tanah berupa Jalan umum, Jl. Kenari seluas 2.000 M2 dengan nilai Rp 17 miliar. Disusul lahan 70.000 m2 atau 7 hektar tanah yang dijual PT. Abbatoir senilai Rp 26 miliar dan tanah 537 M2 dan bekas bangunan Kantor Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari.

Yang fenomenal adalah aset YKP dan PT. YEKAPE senilai lebih Rp 5 triliun. Khusus YKP ini adalah penyelamatan aset terbesar sepanjang sejarah Kejaksaan. Apalagi kalau dihitung berdasarkan harga pasar hampir Rp 10 triliun. Prestasi ini ikut mengantarkan Didik naik jabatan.

“Dengan saya diberi amanah oleh pimpiman dengan jabatan eselon 2 ini berarti sebuah kepercayaan dari pimpinan. Untuk itu saya akan berusaha melaksanakan yang terbaik buat Korps Adhyaksa. Ilmu dan pengalaman soal penyelamatan aset akan saya barikan kepada jaksa-jaksa muda, ” ucapnya.

HARIFIN

author

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *