Gugatan AMPUH Menang Melawan KLHK

Gugatan AMPUH Menang Melawan KLHK

RadarOnline.id, JAKARTA – Aliansi Pemerhati Lingkungan Hidup (AMPUH) baru saja memenangkan gugatan Legal Standing (ius standi) melalui Pengadiln Negeri (PN) Jakarta Pusat terhadap Tergugat yakni, PT Aplus Pacific (Tergugat I), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak Banten.

Sebelumnya, Jarpen Gultom SH yang mewakili AMPUH mengkonfirmasi adanya temuan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari kegiatan operasional usaha PT Aplus Pacific yang bergerak dalam industri bahan bangunan berupa gypsum, menggunakan boiler dengan bahan bakar yang berasal dari batubara dari sisa pembakaran batubara tersebut muncul Limbah B3 berupa fly ash dan bottom ash batubara.

Hal ini didasarkan pada ketentuan pasal 60 Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) yang menyebutkan: “Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan lingkungan hidup tanpa izin.”

“ Kasus ini bermula dari Penggugat menerima informasi dari masyarakat yang berada disekitar lokasi perusahaan milik Tergugat I mengenai adanya kegiatan pelanggaran lingkungan hidup dengan cara MEMBUANG (dumping) dan MENIMBUN limbah B3 jenis fly ash, bottom ash dan gypsum yang diduga dilakukan oleh Tergugat I dilokasi lahan kosong di depan Tergugat I dengan jarak +_12 M, lokasi lahan kosong yang dijadikan penimbunan limbah B3 bukan merupakan lahan milik Tergugat I, tetapi milik warga masyarakat dengan luas lahan +_ 6 Ha, berapa di Jl. Prof. Dr. Ir Soetami KM 08, Desa Nameng, Rangkas Bitung Provinsi Banten atau yang lebih tepatnya berada depan/diseberang jalan perusahaan milik Tergugat I,” papar Jarpen Gultom SH di Jakarta, Rabu (22/5) kemarin.

Pada saat di lokasi Penggugat melihat adanya kegiatan pemerataan lahan dengan menggunakan alat berat (bulldozer) dihamparan tanah lapang seluas +_ 6 Ha, dan dilokasi Penggugat juga melihat dan menemukan limbah fly ash dan bottom ash yang berwarna kehitam-hitaman dan bercampur limbah gypsum.

Protes warga tersebut sudah berkali-kali dilakukan, sejak 2017 protes warga tidak mendapatkan respon dari PT Aplus Pasific.  Hingga warga meminta perusahaan mencarian solusi, tetapi tidak ada tindaklanjut dari perusahaan.

Hingga akhirnya AMPUH turun langsung mengembangkan bukti-bukti akurat mengenai adanya pencemaran lingkungan berupa limbah B3 langsung ke Desa Citeras dan Desa Nameng, Kecamatan Rangkas Bitung, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Dan menemukan bukti-bukti bahwa terjadi pencemaran Limbah B3 didaerah itu, yakni Limbah Gypsum yang digunakan untuk menutupi timbunan limbah B3 jenis fly ash dan bottom ash.  Hamparan lokasi pemerataan limbah gypsum yang mana dibawahnya terdapat timbunan limbah B3 jenis fly ash dan bottom ash.

AMPUH mengajukan gugatan kepada PT. Aplus Pasific, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak Banten, melalui sidang Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat tanggal 24 Mei 2018 dan setelah mengikuti tahap-tahap persidangan, dan pada 22 Mei 2019 pembacaan Putusan dengan hasil gugatan AMPUH dikabulkan.

“Putusan pengadilan mengabulkan gugatan AMPUH patut diapresiasikan karena panjangnya proses persidangan yang berjalan hampir 1 tahun.  Tak hanya itu, AMPUH meminta kepada perusahaan (PT. Aplus Pasific) untuk mencarian solusi soal timbunan limbah B3 jenis fly ash dan bottom ash mengingat dampak bahaya yang ditimbulkan terhadap warga dilingkungan perusahaan,” tegas Jarpen Gultom.

YEN

author

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *