Perang Asimetris di Tengah Kedamaian

Perang Asimetris di Tengah Kedamaian

Oleh: Irjen Pol Drs H. Hamidin (Kapolda Sulsel)

Sungguh tidak diduga kedamaian yang mulai terbentuk harus dicabik oleh genderang perang Asimetrik yang digaungkan oleh kelompok teroris.

Tidak tanggung-tanggung serangan itu menewaskan 253 orang 7 diantaranya diidentifikasi sebagai pelaku bom bunuh diri itu sendiri. Kelompok teroris ini pada tanggal 21 April 2019 menyerang 3 gereja; St Antony di Kolombo, St sebastian di Negombo dan St Sion si kota Batticaloa saat umat Kristiani sedang melakukan ibadah pasca.

Tiga hotel yang saat itu juga diserang bersamaan adalah; Hotel Shangrila, Hotel Cinnamon, dan Hotel Kingbury yang kesemuanya berada di Kolombo. Situasi makin miris lagi adalah pelaku. Ternyata-ada pelaku yang ternyata putra seorang pengusaha terkenal di Srilanka Muhamed Yusuf Ibrahim. Dua anak kandungnya masing-masing bernama Inshap Ahcmad Ibrahim (33) dan adiknya Ilham Achmad Ibrahim (31). Artinya terorisme sudah tidak sepenuhnya identik dengan dengan strata sosial dari kluster ekonomi klas bawah atau berkorelasi dengan kemiskinan. Dari investigasi dan introgasi yang mendalam mereka diduga pernah melakukan latihan di camp sementara Wana Thawiluwah, sebuah daerah terpencil. Selanjutnya mereka sepakat menamakan kelompoknya sebagai NJT (National thowteet Jamaat)

Sekian tahun mendingin konflik kembali menggeliat
Pada era tahun 80-an -tepatnya tahun 1983 -tentu masyarakat dunia masih sangat ingat betapa hampir setiap bulan bahkan minggu ada serangan bom di Srilanka. Serangan yang dilakukan mulai dari teror tunggal, serangan dengan senjata api, serangan bom berangkai, maupun bom bunuh diri. Setiap serangan melahirkan Psikotraumatis dan ketakutan panjang. Tidak terhitung berapa nyawa telah melayang. Sudah tidak mampu diingat betapa banyak tubuh tak berdosa bergelimpangan bersimbah darah. Sarana transportasi hancur rusak porak poranda. Tidak sedikit pula aparat yang harus meregang nyawa atau cacat permanen.

Memang naif –Srilangka yang berpenduduk 22 juta jiwa yang hanya terdiri empat suku dengan komposisi sebaran; Sinhala 74,9 persen, Tamil Srilanka 11,2 persen, Tamil India 4,2 persen, etnis Maor 9,2 persen itu telah menjadi arena dan ajang konflik kemanusian etnik yang sangat berkepanjangan. Bisa dibayangkan sejak 1983 sampai 2009 sudah berkali-kali serangan bom bunuh diri terjadi. Di stasiun, di cafe, di bandara, di bus-bus adalah target serangan dilakukan umum yang dilakukan oleh kelompok Macan Tamil atau Tamil Elam.

Juli hitam dan kebencian laten kolonialisme
Tidak sepenuhnya disadari oleh masyarakat etnik suku Sinhala sebagai etnik mayoritas bahwa kebencian etnik Sinhala terhadap etnik Tamil, yang semasa jajahan dianggap sebagai etnik boneka manja kolonial Inggris, telah melahirkan dendam dan konflik laten. Etnik Tamil yang pada masa post- pascakemerdekaan sering mengalami serangan kekerasan oleh etnik Sinhala telah menyuburkan rasa kebencian etnik dan dendam kesumat. Puncaknya bahwa setelah merdeka 1948 etnik Sinhala berhasil mendominasi mayoritas sistem dalam perpolitikan nasional dan mendominasi tampuk kursi pemerintah. Di sisi lain Tamil menjadi minoritas dalam negara sendiri.

Hal lain yang semakin menjauhkan hubungan antar etnik adalah saat Bahasa Sinhala dijadikan bahasa Nasional menggantikan bahasa Inggris. Agama Buddha secara ekslusif menjadi menjadi agama Negara. Pelan tapi pasti kelompok Tamil mulai membangun faksi faksi perlawanan terhadap etnis Sinhala yang merupakan etnis mayoritas. Sejak saat itulah etnik minoritas Tamil yang dimusuhi Sinhala membentuk faksi perlawanan dengan nama “Macan Tamil” yang lahir pada tahun 1976.

Pada tahun 1983 serangan pertama – sebagai pertunjukan awal dimulai – Iringan konvoi tentara diserang- 13 tentara yang kebetulan ber etnis Sinhala meninggal di tempat. Alih alih diselesaikan dengan operasi penegakan hukum masyarakat etnik Sinhala balas mengamuk. Tahun itu terjadi pembantaian besar besaran. 3000-an etnis Tamil akhirnya mengungsi. Peristiwa kelam Ini disebut tragedi “Juli hitam”, awal sebuah dendam kesumat, mereka menyebutnya sebagai awal bencana perang sipil. Peristiwa ini kemudian menginiasiasi ribuan peristiwa teror lainnya.

Apakah hanya Tamil saja yang radikal ?
Radikalisme dan terorisme bukanlah agama. Agama apapun tidak pernah mengajarkan membunuh, memerangi, apalagi dengan menggunakan Bom. Namun, dalam kasus terorisme, jamak bila kemudian Agama pada akhirnya dijadikan simbol bagi sebuah pembenaran atas tindakan barbarian dan provokasi.

Tegasnya -agama apapun termasuk Buddha- selalu mengajarkan kebaikan dan pelarangan terhadap prilaku teror, tapi nyatanya pada tanggal 24 Mei 2018 lalu, dunia telah dikejutkan oleh pengadilan di Srilangka yang memutuskan penetapan hukuman bagi seorang Biksu Buddha terkenal yang dinyatakan bersalah karena teror dan intimidasi serta provokasi.

Galagodaate Gnanasara nama Biksu tersebut. Pasal dan tuduhan pidana yang didakwakan jaksa padanya berlapis – mulai ujaran kebencian sampai ke provokasi terhadap warga Muslim. Diperadilan Sang Biksu terbukti telah mengintimidasi seorang perempuan di mana suami perempuan tersebut telah diamankan aparat sejak tahun 2010.

Dua tahun setelah itu, tahun 2012 -sebuah ormas BBS Buddha lahir. BBS singkatan dari  Bodu Bala Sena. Yang didirikan oleh biksu Kirama Wimalajoth Nayaka Thera  dan biksu Galagoda Aththe Gnanasaara. Seorang biksu yang telah dinyatakan bersalah pada pada 24 Mei 2018 tersebut. Organisasi dengan dalih membangun misi untuk membela agama Buddha karena takut agama lain akan mengoyak rasa nasionalisme etnik mayoritad Sinhala justru menjadi organisasi teror.

Analisa Teror
Dalam banyak diskusi di Afrika, Asia, Eropa dan beberapa badan dunia lain yang pernah penulis ikuti beberapa waktu yang lalu ada beberapa kondisi yang penulis amati. Pertama; dampak ISIS dan kegagagalan konsep “moving out central of gravity”.

Pasca kekalahan ISIS di Iraq dan Syria, maka konsep ISIS untuk mendirikan walayat (provinsi) diberbagai belahan dunia hancur dan bubar. Di Asia Walayat Al Indonesia melalui Mujahidin Indonesia (MIT) gagal dengan tertembaknya Santoso dan pentolan lainnya. Di Mindanao walayat al Filipini pun gatot (gagal total) setelah Hapilon, Omar dan Abdullah Moute ditundukan. Begitupun kegagalan di Afganistan utara dan perbatasan Rusia – tepatnya di negara negara pecahan Rusia CIS (Comonwealth Independence States)

Kedua, Alqaedah di dataran Magribi AQIM atau Alqaedah di Arab peninsula AQAP telah tiarap dan hibernasi menjadi “sleeping cell”. Sementara Alqaedah di Indonesia JI juga tiarap dan bahkan mati suri karena sejak tahun 2000 sudah hampir 2000 teroris berbagai level menajemen sudah di tangkap dan menjalani hukuman. Sebagian besar yang sudah menjalani hukuman sudah berbalik arah ke konsep dasar NKRI.

Ketiga, persoalan isu ethnicity dan agama seperti etnis Rohingya dari Myanmar tidak banyak mempengaruhi sel tidur di negara tetangga dan negara kawasan. Buktinya Alqaedah Banglades ARNO (Arakan Rohingya National Organization), ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army) sudah tidak banyak melakukan aktivitas karena mereka menyadari bahwa persoalan Rohingya adalah persoalan hukum dan kependudukan internal Myanmar.

Ancaman
Dengan bubarnya ISIS, tiarapnya Alqaedah, hilangnya perjuangan Macan Tamil, turunnya tensi Bokoharam nigera , berkurangnya kekuatan Taliban, melemahnya Lashkar e-Taiba dan makin turunnya aktivitas Al Nusra, bukan berarti terorisme dunia dan kawasan, ada beberapa persoalan yang mungkin akan timbul.

1) jaringan yang terdiri dari sel-sel radikal yang sudah memiliki keinginan yang kuat untuk berangkat berjihad ke Iraq dan Syria. Namun belum sempat berangkat, ISIS sudah bubar. Kelompok ini memiliki potensi menjadi jejaring baru dalam kelompok “frustrated traveller”.

2) Mantan pejuang ISIS yang kembali atau keluar dari Iraq dan Syria karena kekalahan ISIS, tidak pulang ke negaranya, tapi dia singgah ke negara lain dan bergabung dengan kelompok teroris negara yang disinggahi. Dia adalah teroris “relocator”. 3) Returnees dan defortees yang kembali direkrut oleh frustrated traveller akan melahirkan kekuatan dan radikalis baru yang lebih militan.

Dalam kasus bom gereja di Srilanka, penulis memiliki pandangan bahwa kecil kemungkinan kelompok NJT akan bergabung dengan macan Tamil karena perbedaan mendasar aqidah. Tetapi, sentimen terhadap Nasrani bisa direspons sebagai peluang oleh relocator dan frustrated traveller. Sehingga ISIS ataupun sel tidur Alqaedah bisa saja bergabung. Situasi ini bisa melahirkan lone wolf baru. Semoga Indonesia senantiasa damai.

Bachtiar Barisallang

author

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *