Hot

Hotel Dibangun 10 Lantai Disegel, Kasie Pengawasan Sudis Citata Jakbar: Saya Hitungnya 8 Lantai

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Foto bangunan hotel diambil pada Selasa (16/4) dari sisi depan bangunan sesuai arahan Maulani, hasilnya telah dibangun 10 lantai bukan 8 lantai seperti disebutkan Maulani. (Dok. RadarOnline.id)

RadarOnlinne.id, JAKARTA – Kepala Seksi Pengawasan Suku Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan (Sudis Citata) Kota Administrasi Jakarta Barat, H. Maulani P Pane mengakui bahwa pihaknya telah melakukan tindakan segel terhadap bangunan hotel yang berada di Jalan Kembangan Raya, Kembangan Jakarta Barat.

“Iya,” ujar Maulani singkat saat dikonfirmasi di kantornya, Senin (15/4).

Bangunan hotel bernomor IMB 270/C.370/31.73-1-785.51/2018 tgl 26 September 2018 itu dikenakan tindakan segel, menurut Maulani karena tidak sesuai izin, “Disegel karena tidak sesuai izin. Kan ada izinnya, ada papannya,” kata Maulani.

Dalam papan IMB yang terpasang di lokasi bangunan bernomor IPTB : 003/C.40.1/31.71/-1.785.5/2017 itu terpapar pengguna hotel dan fasilitasnya dengan jumlah lantai sebanyak 6 lantai + 1 Mezanin + 1 Basemant, maka totalnya 8 lantai. Namun berdasarkan pengamatan di lokasi, bangunan hotel dan fasilitasnya itu telah dibangun sebanyak 10 lantai sehingga tidak sesuai dengan izin mendirikan bangunan (IMB).

Pembangunan hotel dan fasilitasnya yang telah melebihi 8 lantai (tidak sesuai IMB) itu langsung dibantah oleh Maulani, dimana menurutnya bangunan hotel dan fasilitasnya itu masih dibangun dengan jumlah 6 lantai (sama dengan IMB), “Bukan lantainya, lantainya masih sama. Kalau yang di lapangan itu saya lihatnya itu ada 8, yang lantai 1 dan yang di atasnya itu mezanin hitungnya 1 lantai. Yang bapak lihat di atas itu adalah ruang lift. Lift itu kan mesin di atas itu yang buat narik,” bantah Maulani.

Atas bantahan Maulani, wartawan RadarOnline.id pun mencoba menghitung jumlah lantai yang berhasil dipotret dari lapangan dan memang hasilnya pun lebih dari 8 lantai. Selanjutnya RadarOnline.id memperlihatkan foto bangunan, kemudian Maulani pun mulai menghitungnya dan ternyata hitungan Maulani berhenti di angka 9, “Tambah basmant,” ujar wartawan RadarOnline.id menyambung hitungan Maulani.

Foto: Papan SEGEL yang ditutupi dari pandangan masyarakat umum (publik). (Dok. RadarOnline.id)

Kemudian Maulani pun bertanya, “Emang basmantnya ada?”. “Ada pak, kan dalam izinnya ada 1 basmant,” jawab wartawan Radar Online.id bersama LSM MENARA, Mustakim dan wartawan Cakrawala.

Namun, lagi-lagi Maulani bersilat lidah dan seolah tidak yakin dengan penghitungannya sendiri atas jumlah lantai dalam foto bangunan dan menyuruh wartawan mengambil foto dari sisi depan bangunan, “Coba dari depan aja deh pak, itu kayaknya bapak ngambilnya dari gang kecil itu,” ujar Maulani.

Lantas jika bangunan hotel dan fasilitasnya yang telah dibangun lebih dari 8 delapan itu dipotret kamera dari sisi depan (Sesuai saran Maulani) akankah menghasilkan 8 lantai (Sesuai IMB)? Sungguh ajaib, jika itu terjadi dan sungguh patut dicoba untuk membuktikan bantahan Maulani. Namun jika keajaiban itu tidak terjadi, alasan tindakan segel yang dilakukan Maulani sungguh sangat tidak tepat alias cacat hukum.

*Gagal Paham*

Menurut Maulani dalam penglihatan dan hitungannya pada Jumat kemarin (12/4) jumlah lantai bangunan hotel dan fasilitasnya itu masih 8 lantai, “Saya lewat jalan itu kemarin, hari jumat kemarin saya lewat jalan situ, tidak mungkin kan dalam tiga hari dia nambah 1 lantai. Itu saya hitung, satu mezanine nih dihitung satu lantai dan itu sampai ke atas 8. Di atas lagi saya lihat, itu memang ada tambahan bangunan kecil ke belakang,” ujar Maulani.

Sementara pada Kamis (11/4), jumlah lantai bangunan hotel dan fasilitasnya itu telah menunjukkan lantainya sudah lebih dari 8 lantai (tidak sesuai IMB), “Abang fotonya Kamis, saya lewatnya Jumat, kan cuman beda sehari tidak mungkin dalam sehari bisa nambah satu lantai,” ujar Maulani yang tidak disadarinya telah gagal paham atau gagal fokus atas kalimatnya.

Kemudian wartawan RadarOnline.id dan Cakrawala bersama LSM MENARA mencoba meluruskan dan memastikan tanggal 11/4 itu adalah hari Kamis yang merupakan hari pemotretan foto bangunan yang telah lebih dari 8 lantai namun lagi-lagi dan lagi Maulani tetap bersikukuh menyebutkan bahwa bangunan hotel dan fasilitasnya pada Jumat (12/4) masih 8 lantai, “Saya lewatnya Jumat, abang fotonya Kamis, saya hitung itu (lantai) hari Jumat masih 8. Masa iya, Jumat, Sabtu, Minggu bisa nambah selantai?” ujar Maulani yang ternyata masih belum juga menyadari bahwa dirinya lagi-lagi gagal paham atau gagal fokus atas kalimat dan pertanyaannya bahwa hari Kamis itu 11 April 2019 dan Jumat tanggal 12 April 2019.

Jika bangunan difoto (dipotret) tanggal 11 April 2019 dengan jumlah 10 lantai lalu Maulani lewat jalan pada tanggal 12 April 2019 masih menghitung 8 lantai, lantas kemana satu lantai ketika dilihat Maulani? Sungguh aneh bin ajaib tentunya.

Maulani pun berdalih seraya mengatakan akan lewat dari lokasi dan memfoto bangunan ketika wartawan RadarOnline.id kembali menghitung jumlah lantai yang memang sudah 10 lantai, “Gini deh, nanti saya lewat dari situ, saya foto. Kalau saya nih hitungnya 8. Coba deh fotonya dari depan kantor walikota,” ujar Maulani kembali berkelit.

Dalam pengamatan di lokasi, Kamis (11/4) tampak pekerja proyek melaksanakan pembangunan di lantai paling atas (lantai 10) padahal bangunan sudah dikenakan tindakan segel yang seharusnya tidak boleh dibangun karena telah dikenakan tindakan segel, “Yang disegel itu yang tidak sesuai dengan izin, masa yang tidak disegel tidak bisa dikerjakan? Kan, dia sudah bayar retribusi,” ujarnya.

Hal itu pun dipertanyakan wartawan, bagian bangunan mana sebetulnya yang menyalahi atau yang tidak sesuai izin sehingga dikenakan tindakan segel, namun Maulani lagi-lagi memberikan jawaban yang nyeleneh, “Kan, abang baru datang sore ini. Jika memang kondisinya begitu nanti saya tinggal ngomong ke Pak Sodik, dipasang lagi segelnya di bagian atas yang nambah lantainya jika tidak sesuai dan itu tinggal informasiin ke Pak Sodik. selesaikan,” ujar Maulani.

Terkait papan segel ditutupi dari pandangan masyarakat, menurut Maulani bukanlah suatu hal yang ironis jika hal itu terjadi di lapangan, “Itu bukan hal yang ironis dan kita tugasnya tidak plototin dan tongkrongin itu bangunan tiap hari karena kita juga banyak tugas, yang dipanggil rapatlah ke dinas dan urusan lainnya sementara jumlah personil kita terbatas,” kata Maulani.

*Jadi Kasudin*

Sementara Maulani tidak memberikan jawaban yang jelas saat dipertanyakan berapa lama berlakunya segel sampai ke tindakan surat perintah bongkar, “Kalau kayak begini nih, saya jawab semua, jadi saya Kasudin dong,” ujar Maulani.

Padahal Kasudin Citata Jakarta Barat, Bayu Aji telah mendisposisikan kepada dirinya secara lisan ketika RadarOnline.id hendak melakukan konfirmasi dengan Bayu Aji di kantornya.

Maulani juga mengakui tidak tahu bahwa surat rekomondasi teknis (rekomtek) pembongkaran telah diterbitkan (turun), “Saya tidak tahu,” katanya sambil berlalu.

MARKUS

Share.

About Author

Comments are closed.