Hakim Vonis Lebih Berat Dari Tuntutan Jaksa

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Para Terdakwa kecewa dan teriak-teriak usai mendengarkan putusan hakim lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (6/9).

“Katanya kami  akan dihukum ringan, kurang dari 7 bulan dari tuntutan Jaksa.Tapi kenyataannya kami dihukum 10 bulan lamannya. Mana Pengurus kasus ini. Katanya kami sudah diurus, dan akan dihukum lebih ringan dari tuntutan Jaksa. Mana pengurus kasus ini, mana pengurus, kembalikan uang kami”,  teriak seorang terdakwa perempuan yang mengaku bernama Mia kepada seorang wartawan.

Ketua Mejelis Hakim Diah  Siti Basariah SH , dan Jamaluddin Samosir, SH Kompak menjatuhkan hukuman 10 bulan pidana penjara kepada para Terdakwa karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal 303 KUHP, karena telah menjadikan perjudian sebagai mata pencaharian padahal perbuatan itu dilarang dalam undang undang, katanya.

Putusan hakim itu lebih tinggi 3 bulan dari tuntutan JPU. Sebelumnya, Jaksa menjatuhkan tuntutan hukuman selama 7 bulan pidana penjara terhadap 75 terdakwa, yang dibagi dalam dua berkas perkara. Padahal ancaman pidana pada pasal 303 KUHP itu adalah diatas 10 tahun.

Dalam kasus ini Kajati DKI Jakarta Tony T. Spontana menunjuk; 1. Payaman, SH, MH, 2. Ibnu Sahal, SH, 3, Supardi, SH, 4, Moh. Januar Ferdian, SH. Dan Erwin SH selaku JPU.

Tuntutan 7 bulan pidana yang dijatuhkan JPU kepada para terdakwa menjadi polemik dikalangan wartawan. Ada apa? Sebab sesuai dengan info yang didapatkan wartawan dilingkungan Kejati DKI Jakarta bahwa ada standar paling rendah untuk tuntutan pasal 303 di Kejati DKI Jakarta, yakni tuntutan diatas 1 tahun. “Bisa satu tahun tapi jangan dibawah satu tahun.” Katanya.

Jadi, jika ada tuntutan dibawah satu tahun pidana penjara, berarti ada yang menjadi dipertanyaan besar. Ada apa???

Jawaban ada apa? itu, sudah dijawab oleh teriakan para terdakwa usai mendengarkan putusan hakim dipersidangan. Para terdakwa tidak menduga bahwa hakim bakalan menaikkan putusan diatas tuntutan jaksa. Bahkan menurut perkiraan mereka (terdakwan), sesuai dengan komitmen yang disampaikan “pengurus perkara” hakim akan menjatuhkan putusan yang lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Oleh karena itu, masyarakat menghimbau Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) memeriksa Kajati DKI Jakarta Tony Spontana dan mempertanyakan, mengapa memberikan tugas berat kepada seorang jaksa yang sudah mau pensiun? Ada motif apa? Apakah ada unsur aji mumpung?

Kasus perjudian ini termasuk kasus yang disorot masyarakat, karena sudah meresahkan masyarakat. Selain itu, pada saat penangkapan terjadi, hampir semua media massa yang ada di ibukota Jakarta meliputnya, sehingga masyarakat memperhatikan kasus ini.

Seperti diberitakan sebelumnya Polda Metro Jaya menangkap 87 pejudi dari Jln. Dwiwarna Mangga Besar Jakarta Pusat, 12 Maret 2018. Dalam dakwaan JPU membagi para terdakwa menjadi kelompok I dan II  sebanyak 75 terdakwa. Jaksa terakhir yang menyidangkan perkara ini adalah Jaksa Yulia Rahman dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

THOMSON

Share.

Comments are closed.