Dr. Niru: Pengangkatan Cancer Ganas Bukan Malpraktik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Keterangan gambar: Saminoto, Niru Anita, dan Pandapotan Sinambela kuasa hukum dr. Hardi Susanto.

RadarOnline.id, JAKARTA – Ancaman keselamatan pasien dari keganasan penyakit Cancer Ganas (Kista Ovarium stadium 3c) sudah dilakukan dokter sebagai pertanggungjawaban sumpah jabatan seorang dokter. Penyelamatan itupun memiliki resiko lain dari tidakan operasi itu, apakah itu dapat disebutkan malpraktik? Padahal sebelum tindakan itu dilakukan, si dokter sudah menjelaskan kepada si pasien segala prosedur dan dampak yang akan timbul paska operasi dilakukan, dan untuk melakukan tidakan operasi itu pun ada tandatangan persetujuan dari keluarga pasien. Jadi, dimana letak malpraktiknya?

“Kami Dr. Niru Anita SH MH, Pandapotan Sinambela SH, Saminoto SH MH dari Law Office Dr. NIRU ANITA SH MH selaku Kuasa Hukum dr. Hardi Susanto Sp.OG memberikan klarifikasi terkait pemberitaan diberbagai media tentang tuduhan terjadinya kesalahan prosedur dalam penganganan pasien S. Hal ini perlu kami sampaikan agar seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia dapat mengetahui kejadian yang sebenarnya. Seperti apasih Fakta yang sesungguhnya?” ucap Niru Anita kepada Ragumnes.com melalui relis yang dikirimkan, Minggu (22/7).

Niru melalui Saminoto menjelaskam, bahwa pasien S bersama 1 orang kakaknya pada tanggal 20 April 2015 Pukul 13.00 wib mendatangi dr. Hardi Susanto atas rujukan dari dokter penyakit dalam. Kedatangannya itu dengan keluhan sakit di bagian perut. Dari hasil pemeriksaan USG disimpulkan Ada Tumor Besar di perut bagian bawah. Terhadap Pasien S, dilakukan pemerisakaan LAB lengkap seusai SOP sebelum dilakukan tindakan operasi.

dr. Hardi Susanto menjelaskan kepada pasien S, tentang penyakit yang diderita berikut resiko resiko terburuk apabila Operasi Kista Ovarium dilakukan. dr. Hardi Susanto menjelaskan secarai detail dengan durasi kurang lebih 30 Menit, yang disaksikan oleh 1 orang kakak pasien S dan juga didampingi 1 orang perawat.

Setelah itu, Pasien S dan Kakaknya menandatangani Inform Consent (Persetujuan Tindakan Kedokteran) dengan saksi perawat, dimana dalam Informed Conernt tersebut tertuang segala kemungkinan adanya risiko keganasan yang akan mempengaruhi prognosis penyakit yang diderita.

Keesokan harinya tanggal 21 April 2015, pada jam 8.00 wib kurang lebih, dilakukan tindakan operasi terhadap pasien S. Dalam operasi itu tim dokter mengangkat dua buah KISTA berukuran sebelah kiri 16X12 cm, Kanan 10 x 8 cm. ini merupaka ukuran besar yang sudah mengarah syadium empat.

Keesokan harinya pasca operasi itu, dr. Hardi Susanto melakukan Visit ke pasien S, dan menjelaskan tentang kondisi pasien yang didampingi oleh 1 orang perawat dan serta disaksikan 1 orang kakak pasien S. dr. Hardi Susanto menjelaskan bahwa hasil pemerikasaan LAB adalah Positif Kanker.

Setelah hasil resmi pemeriksaan patologi anatomi keluar di hari ke 2, dr. Hardi Susanto menganjurkan pasien untuk melakukan Kemoterapi, yang akan dirujuk kepada seorang dokter ahli onkologi di Jakarta.

Setelah 1 minggu kemudian pasien S, datang kepada dr. Hardi Susanto untuk membuka balutan bekas operasinya dan juga menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pengobatan ke Singapura.

Atas permintaan pasien S itu, dr. Hardi Susanto membuatkan rujukan ke salah satu Rumah Sakit di Singapura.

Berdasarkan informasi yang disampaikan kakak pasien S kepada dr. Hadi Susanto selama proses perawatan di Singapura mengatakan bahwa setelah dokter di Singapura melakukan konfirmasi pemeriksaan PA dan disimpulkan bahwa pasien S menderita kanker stadium III C, dan pasien telah menjalani kemoterapi di Singapura. Kakak pasien S melaporkan hasil kesimpulan dokter Singapore itu kepada dr. Hardi Susanto melalui email.

“Pengangkatan dua buah kanker ovarium stadium IIIc dari Rahim seorang wanita tidak dapat dipisahkan dari indung telur Rahim itu. Karena kanker kista ovarium itu menempel pada Rahim. Pilihanya hanya dua; keselamatan jiwa atau indung telur? Ini pertanyaannya. Karena jika seandainya dilakukan hanya mengangkat kanker kistanya, tidak ada jaminan bahwa akar dari kista itu ikut terangkat,” ujar Saminoto menyampaikan keilmuannya terkait penyakit kista.

Klarifikasi Pemberitaan Sejumlah Media

Pandapotan Sinambela SH selaku kuasa hukum Dr. Hardi Sutanto, sangat menyesalkan pemberitaan disejumlah media yang memojokkan kliennya. Dia mengatakan bahwa tidak benar kliennya tidak mendapatkan persetujuan dari Pasien S dalam melakukan tindakan kedokteran (Inform Consent). Pandapotan juga membantah bahwa tidak benar dr. Hardi Susanto di skorsing / di pecat dari RS. GK karena pasien S.

“Perlu kami jelaskan bahwa alasan dipecatnya dr. Hardi Susanto dari RS. GK adalah dilatar belakangi adanya masalah internal di dalam RS. GK, dan perlu kami garis bawahi pula, bahwa pemecatan dr. Hardi Susanto tidak ada hubungannya dengan pasien S dan pelanggaran – pelanggaran profesi,” ungkap Pandapotan.

Lebih jauh Pandapotan megungkapkan bahwa dr. Hardi Susanto adalah salah satu pemegang saham di RS. GK. Terkait dengan pemecatan dr. Hardi Susanto dan yang berhubungan dengan jabatan, hak – hak dr. Hardi Susanto, sedang dipersiapkan langkah hukum.

“Tentang adanya pemberitaan yang menyatakan bahwa dr. Hardi Susanto sering melakukan Pelanggaran, itu perlu pembuktian dan pernyataan tersebut tidak benar. itu merupakan Fitnah,” pungkas Pandapotan.

THOMSON

Share.

Comments are closed.