Disperta Bondowoso Kekurangan Paramedis

0
170

RadarOnline.id, BONDOWOSO – Kepala Bidang Kesehatan (Keswan) Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Disperta) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Cendy Herdiawan mengungkapkan Disperta kekurangan paramedis untuk melayani peternak. Total Paramedis yang dimiliki oleh Disperta saat ini, hanya berjumlah 11 orang saja.

“Kami hanya memiliki 9 orang paramedis Pegawai Negeri Sipil (PNS). Yang non PNS 2 orang. Sedangkan, yang harus kita layani 23 Kecamatan,” kata Cendy di kantor Disperta, Jumat (13/7).

Menurut Cendy, kekurangan Paramedis berdampak kerugian kepada daerah. Khususnya para peternak. Banyak permasalahan yang dialami oleh peternak, tidak teratasi dikarenakan kekurangan petugas. Seperti, kematian anak sapi atau pedet saat terjadi proses kelahiran.

“Bayangkan saja, jika sehari atau seminggu terjadi satu kematian pedet, yang harganya saat ini sekira 7 juta. Kemudian, dikalikan 23 Kecamatan yang ada. Sudah berapa Milyar dalam setahun kerugian yang dialami akibat tidak tertolong oleh petugas,” ujar Cendy.

Kekurangan petugas, tambah cendy, bukan hanya berdampak kepada kematian ternak yang lahir tidak normal. Kekurangan itu juga berdampak kepada sapi betina produktif.
 
“Banyak sapi produktif mandul, dikarenakan kekurangan paramedis. Sapi yang seharusnya bunting, tidak bisa mengasilkan pedet,” terangnya.

Muncul Paramedis Ilegal

Kekurangan paramedis untuk melayani peternak, dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, menjadi paramedis ilegal. Menawarkan penanganan kelahiran maupun suntik sehat terhadap ternak.

“Mereka yang berfikir negatif, menganggap ini sebagai peluang. Hanya bermodal alat suntik dan obat yang mereka beli, kemudian mendatangi para peternak. Padahal, mereka tidak memahami bagaiman cara penggunaan obat itu,” paparnya.

Dijelaskan Cendy, selain bertugas melayani peternak, paramedis yang dimiliki oleh Disperta memiliki kewajiban lain. Seperti, bertugas di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) maupun rumah potong hewan. Keadaan itu, mengurangi waktu untuk mengatasi kasus yang dilaporkan kepada petugas oleh peternak.

“Kemampuan seorang petugas tidak bisa diukur. Tergantung kasus yang ditangani. Jika kasus kelahiran bisa 3 jam. Setiap petugas, rata – rata memiliki 15 kasus dalam satu hari. Belum lagi kewajiban yang harus mereka lakukan, seperti di puskeswan. ” jelasnya.

Tugas rangkap yang dilakukan oleh paramedis, tidak dapat menjangkau semua kasus yang masuk. Belum lagi tentang medan didaerah tertentu. Sehingga, muncul paramedis ilegal memanfaatkan keadaan. Cendy berharap, kekurangan paramedis bisa segera teratasi.

Dampak Paramedis Ilegal

Ketidak pahaman paramedis ilegal dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia. Dampak berawal saat paramedis ilegal itu melakukan proses veteriner.

“Sapi sebelum disembelih, ada istilahnya anti obat. Jadi, tidak ada residu anti biotik ditubuh sapi itu. Nah, itu tidak akan dipahami oleh paramedis ilegal.” Jelas Cendy.

Jika residu dikonsumsi oleh manusia, lanjut cendy, dikarenakan ketidak pahaman itu, akan berdampak buruk terhadap ginjal manusia. Belum lagi penyakit lain akibat ketidak pahaman penanganan terhadap ternak.

Selain berdampak buruk terhadap manusia, keberadaan paramedis ilegal dapat merugikan peternak. Terutama pada proses suntik kawin ternak telah tiba. Paramedis ilgal, tidak akan memahami pemecahan birahi terhadap masing – masing ternak.

“Untuk birahi ternak, memerlukan waktu. Jika tidak memahami itu, akan melakukan proses suntik kawin sembarangan. Tidak mampu memilah, tentang birahi ternak. Nah ini akan sangat merugikan peternak,” pungkas Cendy.

SHODIQ