Hakim Diduga Langgar Hukum Acara Dilaporkan ke KY, ORI dan MA

RadarOnline.id, JAKARTA – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara pimpinan Mulyadi SH MH dengan anggota Salman Alfaris SH MH dan Tugiyanto SH MH dilaporkan ke Mahkamah Agung (MA), Komisi Yudisial (KY) dan Ombusdmen RI (ORI) oleh Herman Yusuf, dengan pelanggaranan hukum acara perdata. Pengaduan: No.018MJ20180522T4 perihal Laporan Pelanggaran Hukum Acara Yang dilakukan dengan sengaja.

Bahkan Badan Pengawasan (Bawas) Mahkamah Agung RI telah memberikan jawaban atas laporan tersebut pada Selasa 22 Mei 2018, yang menyatakan Pengaduan Lengkap dan Siap Diproses, karena majelis hakim terlapor telah melakukan pelanggaran berat.

Ketiga hakim itu dilaporkan setelah membacakan putusan dalam Perkara Perdata Gugatan Wanprestasi, dengan Nomor: 603/Pdt.G/2017/PN.JKT.UT. antara  Herman Yusuf sebagai penggugat melawan Soeseno Halim (tergugat I), Arifin lie (tergugat II), Triadi Budi Setijono (tergugat III), dan Halim Purnama (tergugat IV), pada Rabu (16/5).

Dalam materi putusan itu ada surat jawaban dari tergugat I (Suseno Halim) padahal saat jadwal agenda jawaban persidangan, tergugat I tidak memberikan surat jawaban kepada majelis. Melainkan tergugat I menyerahkan jawaban pada saat agenda duplik. Dan pada saat itu penggugat protes penyerahan jawaban tergugat satu itu, majelis mengatakan: “Terimah saja, untuk dibaca-baca”. Namun saat pembacaan putusan dibacakan jawaban tergugat I itu juga ikut dilampirkan dalam putusan.

Mendengar ada surat jawaban tergugat I dalam putusan, Herman Yusuf yang berprofesi wartawan hukum itu langsung protes dan menuding hakim telah menerima suap.

“Coba bayangkan, saat saya protes tergugat memberikan jawaban pada saat agenda duplik, hakim mengatakan bahwa surat jawaban itu hanya untuk dibaca-baca. Ternyata surat jawaban tergugat I itu dibacakan juga saat putusan perkara dibacakan,” ucap Herman dengan dongkol.

Herman mengatakan, kalah menang dalam persidangan hal yang biasa. Tapi kalau melakukan pelanggaran terhadap hokum acara itu yang tidak boleh, ujarnya.

Lebih jauh Herman menjelaskan, saat agenda jawaban dari para Tergugat tanggal 7 Februari 2018 yang mengajukan jawaban hanya Tergugat III (Triadi budi Setijono). Tergugat I  (Suseno Halim) tidak mengajukan jawaban, dan hakim mengatakan tidak akan memanggil tergugat I. Tetapi pada tanggal 14 Februari 2018, saat agenda Replik dari Penggugat yang hadir hanya Tergugat I dan Tergugat III.

Pada agenda Duplik dari para Tergugat seminggu setelah Replik dari Penggugat. Tergugat I (Suseno Halim) membawa Duplik dan juga Jawaban-nya. Pada saat itu juga Penggugat (Herman Yusuf) sudah menyatakan keberatan dan memprotes Hakim.

“Yang Mulia, ini acara Duplik. Kok Tergugat I (Suseno Halim) juga mengajukan jawaban? Saya tidak mau terima.” Protes Herman.

Akhirnya setelah Majelis Hakim musyawarah, Hakim Tugiyanto menyuruh Penggugat untuk mengambil jawaban Tergugat I (Suseno Halim) dan berkata: “Sudah-sudah, jangan ribut. Terima saja jawabanya untuk baca-baca di rumah,” ucap Tugiyanto.

THOMSON
 

NO COMMENTS