Rolas Sitinjak: Siapa Yang Menjamin Cacing Makarel Mengandung Protein

0
22

Wakil Ketua BPKN RI, Rolas Budiman Sitinjak SH MH.

RadarOnline.id, JAKARTA – Kasus temuan cacing Anisakis Sp pada ikan makarel kalengan mengundang keprihatinan. Terlebih pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia (RI), Nilai F Moeloek yang menyebut bahwa kandungan cacing itu tidak terlalu bermasalah, bagi tubuh manusia jika dimasak dengan benar.

“Cacing itu sebenarnya isinya protein, berbagai contoh aja tapi saya kira. Kalau sudah dimasak kan saya kira juga steril. Insyaallah nggak jadi penyakit,” kata Menkes Nila, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3) lalu.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Republik Indonesia (RI), Rolas Budiman Sitinjak SH MH mengaku prihatin atas pernyataan Menteri Kesehatan. Pasalnya, ibu Menteri dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) selaku pengawas pangan dinilai lalai dan lupa bahwa, aturan Pemerintah tentang Standar Keamanan Pangan tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan itu diperuntukan untuk konsumen.

“Pernyataan cacing mengandung protein kalau diolah dengan BAIK, secara aturan sudah melanggar etika, karena siapa yang menjamin bahwa cacing itu mengandung protein,” kata Rolas Sitinjak.

Rolas menjelaskan, mengacu kepada Pasal 1 PP 28 tahun 2004 point 7, yaitu keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia

Pasal 45 PP 28 tahun 2004 yang mengatakan bahwa, BPOM berwenang melakukan pengawasan keamanan, mutu dan gizi pangan yang beredar dengan mengambil contoh yang beredar dan/atau melakukan pengujiannya. Hasil pengujian pangan segar dan pangan olahan tersebut disampaikan ke instansi yang bertanggungjawab di bidang perikanan dan perindustrian.

Oleh sebab itu, BPKN berkesimpulan BPOM perlu meningkatkan pengawasan industri pengolahan ikan mackerel sejak berupa bahan baku ikan segar sampai kepada produk mackerel kaleng yang beredar di pasar. Yang mana dalam pengawasan wajib dilakukan dengan mengambil contoh dan mengujinya untuk memastikan kesesuaian terhadap standar keamanan pangan yang ada.

“BPOM diminta menyampaikan hasil ujinya kepada instansi terkait yang bertanggungjawab dalam melakukan pembinaan. Dalam hal ini untuk ikan segar ke KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) dan ikan olahan ke Kementerian Perindustrian, agar industri tersebut dapat dibina dan ditingkatkan mutunya,” kata Rolas.

“BPOM diminta untuk memastikan produk ikan mackerel kaleng yang terkontaminasi cacing sesuai batch yang ada tidak dikonsumsi konsumen melalui koordinasi dengan pihak industri dan Pemda dalam rangka merecall produk mackerel dalam kaleng yang sudah ditetapkan tercemar cacing sesuai dengan batch produksinya,” tutup Rolas.

Sebagaimana diketahui, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) selaku pihak pengawas merilis 27 merek ikan makarel kalengan mengandung cacing pada Rabu, 28 Februari 2018. Dan 11 di antaranya, merupakan produk lokal yang bahan bakunya berasal dari luar negeri (termasuk Cina), dan 3 merek ikan makarel kaleng, yakni Farmerjack dengan Nomor Izin Edar (NIE) BPOM RI ML 543929007175, nomor bets 3502/01106 35 1 356. Selain itu, merek IO, NIE BPOM RI ML 543929070004, nomor bets 370/12 Oktober 2020. Terakhir, merek HOKI, NIE BPOM RI ML 543909501660, nomor bets 3502/01103/-. telah ditarik peredarannya dari pasaran.

YENNY

Baca juga :
Calon Penumpang Delay, Rolas Sitinjak: Hukum Harus Ditegakkan Untuk Melindungi Konsumen
Kasus SHM Perumahan Violet Garden, Wakil Ketua BPKN Rolas Sitinjak Turun Langsung
Rolas Sitinjak Upayakan Kasus Warga Sentul City Selesai