Evi Bantah Keterangan Saksi Soal Dana CV Sikma Jaya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id ROKANHILIR – Evi Ronauli Togatorop (32) yang didakwa melakukan penggelapan Dana pembelian Tandan Buah Segar (TBS) sawit milik CV. Sikma Jaya unit Pujud kembali menjalani persidangan, Selasa (20/3)
dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Terungkap dalam sidang CV. Sikma Jaya yang berkantor pusat di Flamboyan Kabupaten Kampar Riau salah satu perusahaan yang bergerak dibidang suplayer TBS milik Ramos Tedy Sianturi salah satu anggota DPRD Provinsi Riau, melaporkan terdakwa atas  perbuatan melawan hukum sesuai pasal 374, jo pasal 378 dan pasal 372 KUHPidana atas laporan audit internal, bahwa terdakwa diduga melakukan penggelapan dana panjar bagi para pengumpul buah sawit (agen) sebesar Rp. 516.547.383 yang terjadi Desember 2015 lalu.

Sidang yang diketuai majelis hakim Rudi Ananta Wijaya SH MH Li dengan anggotanya Lukman Nulhakim SH MH dan Rina Yose SH menggelar sidang mendegarkan kembali dua saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Beny Sianturi selaku Audit Internal dan Parulian Sinaga selaku bagian Suplayer dan bagian penarikan dana CV. Sikma Jaya unit Pujud, berlangsung hingga pukul 23.30 malam hari.

Pantauan RadarOnline.id Agenda sidang dua hari berturut turut yang berakhir hingga tengah malam ini sudah menghadirkan enam orang saksi dari karyawan CV. Sikma Jaya yang diajukan oleh Tim JPU Sobrani Binsar SH dan Anggotanya  Masuki Sitanggang SH, sedangkan terdakwa Evi Ronauli didampingi oleh kuasa hukumnya Jackson Nababan SH.

Dari hasil yang dirangkum selama dalam persidangan keterangan enam saksi yaitu Arthur Sihombing SE selaku Wakil Direktur, Jumain sianturi selaku kepala Produksi, Hendra Wahyu Silalahi (HRD). Masdi Sianturi (acounting)  Beny Sianturi (audit internal), dan Parulian Sinaga menerangkan bahwa setiap pengiriman panjar dana harus melalui proses pengajuan dan persetujuan wakil Direktur Sikma Jaya yaitu Arthur Sihombing. Dan, kelima saksi mengetahui adanya penggelapan dana yang diduga dilakukan terdakwa atas hasil audit internal yang dilakukan oleh Beny Sianturi.

Atas dugaan penggelapan dana panjar untuk agen pengumpul TBS yang awalnya setelah diaudit mencapai 1 milliar rupiah, Terdakwa Evi Ronauli diperintahkan oleh wakil Direktur untuk dibawa ke kantor pusat untuk diperiksa dan dilakukan pengecekan terhadap seluruh data yang dibuat oleh terdakwa selaku kasir di CV. Sikma Jaya Unit Pujud.

Bahwa dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak kantor pusat kepada terdakwa dituangkan dalam berita acara bahwa dana kerugian CV. Sikma Jaya sebesar Rp. 516.547.383 diakui oleh terdakwa dipakai untuk keperluan pribadinya, dan sebagian dana panjar TBS tersebut dipakai oleh Erawati Sitinjak selaku admin kasir dan Parulian Sinaga selaku Suplayer di unit Pujud.

Atas seluruh keterangan saksi yang diajukan oleh JPU dalam sidang, Terdakwa Evi Ronauli membantahnya, bahwa audit yang dilakukan oleh Beny Sianturi, terdakwa tidak pernah mengetahuinya, Terdakwa juga membantah saat dirinya dipanggil ke kantor pusat tidak dibolehkan membawa data pembukuan yang ada di Unit Pujud. 

Bahkan pemeriksaan dirinya di kantor pusat hanya berdasarkan data yang ada pada tim audit saja yang ditunjukkan pada terdakwa tidak ada data pembanding dari data yang ada pada terdakwa.

Terdakwa juga membantah bahwa tanda tangan pernyataan dalam BAP pemeriksaan di kantor pusat CV.Sikma Jaya dilakukan karena terpaksa karena dirinya tertekan.

Sedangkan Kuasa Hukum Terdakwa, Jackson Nababan SH kepada seluruh saksi mempertanyakan kenerja atasan terdakwa. Kenapa kejadian dugaan penggelapan dana panjar yang di markup terjadi pada desember 2015, namun baru terungkap pada maret 2017, sementara audit internal melakukan audit setiap bulan, dan terdakwa selaku kasir di unit Pujud wajib memberikan laporan harian, bulanan dan tahunan, kepada kantor pusat CV. Sikma Jaya. 

SAHDON

Share.

Comments are closed.