Hakim Vonis Gubernur Bengkulu Nonaktif Ridwan Mukti 8 Tahun Penjara

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, BENGKULU – Gubernur Bengkulu nonaktif Ridwan Mukti dan istrinya, Lili Martiani Maddari divonis 8 tahun penjara denda Rp 400 juta subsider 2 bulan penjara dalam perkara penerima suap fee proyek jalan senilai Rp 1 miliar oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bengkulu.

Tak hanya vonis 8 tahun pencaja dan denda Rp 400 juta, Ridwan Mukti juga dicabut hak politiknya selama 2 tahun.

Sidang korupsi suap fee proyek jalan tersebut dipimpin oleh hakim ketua, Adminal dan dua hakim, yakni Gabriel Sialagan san Nick Samara, di PN Tipikor Bengkulu, Kamis (11/1) menyatakan bahwa kedua terdakwa secara sah dan menyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang diatur dan diancam dalam pasal 11 dan atau 12 huruf a Undang-Undang No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan undang-undang No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dalam hal ini, vonis yang dijatuhkan majelis hakim PN Bengkulu lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) KPK, yakni Ridwan dan Lili, masing-masing 10 tahun penjara dan dicabut hak politik Ridwan selama 5 tahun.

Atas kasalahan tersebut, kedua terdakwa dijatuhi hukuman masing-masing 8 tahun penjara dan denda Rp 400 juta subsider bulan kurungan penjara, dan Ridwan Mukti dicabut hak politiknya selama 2 tahun,” kata Hakim Ketua, Admiral.

Mendengar putusan dari majelis hakim, Ridwan dan Lily tertunduk lesu. Kedua terdakwa langsung dibawa ke Lapas Bengkulu.

Untuk diketahui, Ridwan dan Lili adalah pasangan suami istri ini terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK, pada Juni 2017 lalu dalam kasus suap fee proyek pembangunan jalan provinsi di Kabupaten Rejang Lebong tahun 2016 sebesar Rp 1 miliar. Dimana, KPK menetapkan 4 tersangka dalam kasus ini, yakni Ridwan Mukti, Lily Martiani Maddari (istrinya), Rico Dian Sari dan Djoni Wijaya selaku kontraktor.

RINA

Sumber: Suara Pembaruan

Share.

Comments are closed.