Polresta Tangerang Berhasil Bongkar Kasus Pedofilia

0
8

RadarOnline.id, BANTEN – Polresta Tangerang berhasil membongkar kasus pedofilia dengan korban anak-anak berjenis kelamin Laki-laki usia antara 10-15 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual oleh tersangka berinisial WS alias Babeh.

“Beberapa hari lalu, saya mendapatkan SMS dari masyarakat yang melaporkan kasus kekerasan seksual kepada anak atau pedofilia. Berawal dari SMS itu, saya memerintahkan Kasat Reskrim Kompol Wiwin Setiawan untuk melakukan penyelidikan dan menindaklanjuti informasi tersebut,” kata Kombes Sabilul Alif, pada Kamis (4/1) lalu.

Kasus pedofilia ini tidak langsung diekspos, lanjut Sabilul Alif, mengingat kepentingan penyelidikan dan pertimbangan untuk melindungi hak terutama faktor psikologis anak-anak lain yang turut menjadi korban.
Dalam membongkar kasus ini, polisi melakukan serangkaian penyelidikan dimulai pada tanggal 20 Desember 2017, Sat Reskrim Unit V PPA, Pimpinan Kanit PPA Ipda Iwan Dewantoro, bersama 4 anggotanya melakukan penangkapan terhadap tersangka berinisial WS alias Babeh, warga Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang yang berhasil dibekuk dirumahnya tanpa perlawanan.

“Tersangka WS mengakui dan menceritakan perbuatan yang dilakukannya. WS menceritakan peristiwa yang berawal di Kampung Sakem, Desa Tamiang pada April 2017. Saat itu, istri tersangka sudah 3 bulan menjadi TKW di Malaysia. Menurut tersangka, anak-anak sering mendatangi dirinya di gubug yang didirikan tersangka. Kedatangan anak-anak karena menganggap pelaku memiliki ajian semar mesem dan bisa mengobati orang sakit. Tersangka sendiri mengaku sehari-hari berprofesi sebagai guru honorer di salah satu SD di kawasan Rajeg,” ucapnya.

Anak-anak itu meminta ajian semar mesem kepada tersangka WS. Atas permintaan itu, pelaku bersedia memberikan ajian semar mesem asalkan ada mahar atau semacam kompensasi uang. Namun, untuk mahar uang, anak-anak mengaku tidak memilikinya. Tersangka kemudian mengatakan, mahar uang bisa diganti asalkan anak-anak bersedia disodomi. Dan berdasarkan pengakuan tersangka WS, anak-anak bersedia disodomi.

“Tersangka mengaku mengolesi minyak ke anus korbannya sebelum disodomi. Setelah itu, tersangka memerintahkan anak-anak untuk menelan gotri yaitu logam bulat kecil yang diklaim tersangka sebagai bagian dari ritual pemberian ajian. Jika ada anak yang menolak disodomi, tersangka menakut-nakuti korban bahwa jika tidak bersedia disodomi maka akan menerima kesialan selama 60 hari. Atas dasar itulah, akhirnya anak-anak bersedia disodomi. Tersangka mengatakan, kebanyakan anak yang menjadi korbannya enggan bercerita ke orang lain karena malu atau takut,” kata Sabilul.

Dalam melakukan aksinya, tersangka WS ini berpindah tempat. Sebelumnya di Kampung Sakem Desa Tamiang, kemudian pindah ke Kampung Jawaringan, Desa Sukamanah, Kecamatan Rajeg pada Oktober 2017. Namun, meski sudah pindah tempat, anak-anak tetap mendatanginya ke gubug baru, tersangka kembali melakukan aksinya dengan modus serupa,” ungkapnya.

Hingga pada tanggal 2 Desember 2017, tersangka kembali melakukan aksi kekerasan seksual kepada 3 anak-anak. Salah satu anak kemudian menceritakan peristiwa itu ke orangtuanya. Setelah melakukan penyelidikan, pada tanggal 14 Desember 2017, berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP /29/K/XII/2017/Sek.Rajeg Tanggal 14 Desember 2017, seorang warga akhirnya melaporkan bahwa anak laki-lakinya menjadi korban peristiwa itu ke Polsek Rajeg.

“Setelah dilakukan visum, atas perintah saya, kasus itu diambil alih Polresta Tangerang dengan Pelimpahan Berkas Perkara Nomor B: 151/XII/2017/Sek.Rajeg, tanggal 20 Desember 2017. Pelimpahan penanganan itu dilatarbelakangi sensitivitas kasus serta pola penanganan yang harus benar-benar maksimal,” papar Sabilul.

Dari hasil interogasi, jumlah anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual sebanyak 25 orang, kesemuanya sudah menjalani visum. Dan satu per satu nama anak yang menjadi korban itu dikenali oleh tersangka.

Oleh sebab itu, Sabilul menjelaskan demi menjaga hak anak dan keluarganya, maka foto dan inisial korban tidak dirilis. Untuk tersangka WS, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan kejiwaan dan WS alias Babeh ini dinyatakan normal. Turut diamankan barang bukti berupa 1 kaos lengan pendek merek little boy, 1 celana pendek warna biru ungu, pelor gotri, dan telepon genggam.

Atas perbuatannya, tersangka WS dijerat Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dalam paling lama 15 tahun.

PESTA TAMPUBOLON