UTA 45 Pelopor Pemberantasan Ijazah Palsu

RadarOnline.id, JAKARTA – Universitas 17 Agustus (UTA) 45 Jakarta yang sebelumnya disingkat UNTAG berkomitmen pelopor pemberantasan mafia Ijazah Aspal (asli tapi palsu). Mengingat UTA 45 telah dituding sebagai universitas yang paling banyak mengeluarkan ijazah palsu. Padahal, tudingan itu dihembuskan oleh mafia yang masuk dalam jaringan ijazah palsu dan pengguna ijazah palsu serta yang melakukan plagiat untuk pembunuhan karakter UTA 45.

Begitu pentingnya SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas diera kepemimpinan pemerintahan Jokowi, sesuai dengan program kerjanya “revolusi mental”, kata Ketua Yayasan UTA 45 Jakarta,  Rudiyono Darsono SH MH yang didampingi Rektor Dr. Virgo Simamora MBA dan Dosen Ekonomi Berlin Pangaribuan, disela-sela berjalannya seminar kepada awak media di ruang aula Kampus UTA 45 Jakarta Utara, Senin (11/12).

Menurut Rudiyono, diadakannya seminar yang bertajuk “Komitmen Universitas 17  Agustus 1945 Jakarta Memberantas Ijazah Palsu” dipicu kegalauan perguruan tinggi dan dipacu statemen Presiden RI Joko Widodo yang mencanangkan “Revolusi Mental”. 

Revolusi Mental ini kita harus membenahi dunia pendidikan. Apalagi untuk menjadi seorang pejabat publik. Kejujuran, kebersihan, kebenaran itu harus yang menjadi yang utama buat kita. Dunia pendidikan akan merefungsikan diri dulu. Kita bersihkan dulu orang orang yang menggunakan ijazah Universitas 17 Agustus, menjadi Zero ijazah palsu,” ucap sang Ketua Yayasan.

Menurutnya, universitas harus mencetak SDM yang cerdas, cakap, mandiri, beriman dan bertakwa, sehingga, jika menjadi seorang pengambil keputusan dapat memahami dan memaknai arti suatu jabatan merupakan amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan dunia akhirat, ucapnya

Ketika ditanya tentang adanya penggunaan ijazah Aspal UTA 45, mengatakan mereka sudah melakukan perifikasi dan hasilnya cukup signifikan. Bahkan, katanya sarjana lulusan UTA 45 yang sah di bully dan dikatakan mendapat ijazah Aspal. 

Terkait penggunaan ijazah palsu, kita sudah membuat sejumlah laporan Polisi di Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya. Namun, sejauh ini belum ada laporan itu yang ditindaklanjuti penyidik hingga sampai kepenuntutan. Bahkan justru kita mendapatkan intimidasi dan dijadikan sebagai tersangka. Ini yang menjadi dilema. Saya dijadikan sebagai tersangka pada saat saya diluar negeri. Ini peristiwa hukum luar biasa, kasus delik aduan, terlapor langsung dijadikan tersangka, tanpa terlebih dahulu ada panggilan sebagai saksi, dan bahkan belum pernah diperiksa sebagai saksi,” ungkap Rudiyono Darsono, mengenangkan peristiwa yang menimpanya.

Walaupun katanya laporan itu di Sp3 karena pelapor tidak pernah hadir saat gelar perkara. Dan mafia itu katanya mencoba menghancurkan karakter universitas 17 Agustus 45, dengan melaporkan pada tahun 2014 dan dijadikan tersangka.

Sementara Rektor UTA 45 Dr. Virgo Simamora MBA dalam sambutan sebelum pembukaan seminar  diresmikan Ketua Yayasan UTA 45 Rudiyono Darsono mengatakan Praktek penggunaan ijazah palsu dan Mafia ijazah palsu harus dituntaskan. “Pemberantasan korupsi harus dimulai dari perguruan tinggi. Jika seseorang  menjadi pejabat dan menjadi pembuat kebijakan dalam pemerintahan tetapi dasar gelar pendidikannya dari ijazah palsu tentunya akan membuat kebijakan, keputusan yang menyesatkan, karena tidak didasari latar belakang yang benar.  Ini yang sedang dikometkan UTA 45. Jadi, kita harus bersih bersih walaupun kita mendapat tekanan,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Gelora Tarigan SH MH menegaskan penggunaan ijazah aspal sudah masuk tingkat politik dan bahkan dari lingkungan penegak hukum terlibat. Mungkin termasuk dalam jaringan mafia ijazah palsu itu atau sebagai pengguna ijazah palsu itu sendiri, ujar Gelora Tarigan.

“Pemerintah meminta Kampus membina mahasiswa secara disiplin dan menjauhkan radikalisme, disisi lain mereka mempertontonkan kebohongan publik. Pemerintah seolah olah tidak ikhlas untuk memperbaiki dunia pendidikan. UTA 45 Harus menjadi pelopor pemberantasan ijazah palsu. Ijazah palsu sumber dari segala korupsi dan kebohongan publik,” tegas Gelora Tarigan.

THOMSON

NO COMMENTS