Kejari Bogor Pidanakan Kasus Perdata

Radaronline.id, BOGOR – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fitri dan Gozwatuddien SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bogor, menghadapkan terdakwa Johan Hany Pinaria bin Paulus Pinaria kehadapan persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim R. Hendral SH MH di Pengadilan Negeri (PN) Bogor, Kamis (7/12).

Agenda persidangan adalah mendengarkan keterangan saksi, tapi karena Jaksa belum dapat menghadirkan saksi, maka Ketua Majelis R. Hendral menutup sidang dan mengagendakan persidangan selanjutnya hari Kamis (15/12) minggu depan.

Tetapi, sebelum mengetuk Palu pertanda sidang ditutup majelis menjelaskan dan menjadwalkan agenda persidangan berikutnya dan menyatakan pembacaan putusan pada tanggal 2 Januari 2018, sudah terlaksana. “Kita harus masuk pada asas proses persidangan yang efisien, efektif dan murah. Kasihan terdakwa lama-lama ditahan kalau ternyata tidak terbukti bersalah,” ucap Hendral mengingatkan JPU dan Kuasa Hukum terdakwa, agar tidak ada lagi penundaan persidangan berikutnya.

Kuasa Hukum terdakwa Jupryanto Purba SH MH didampingi Taib SH kepada RadarOnline.id usai persidangan mengatakan bahwa, kasus ini tidak layak dijadikan perkara apalagi sampai kepersidangan.

Kita sangat menyayangkan kasus ini sampai kepersidangan. Sebab, dari kwantitas dan kualitas perkaranya sangat tidak layak dijadikan perkara. Kerugian yang dilaporkan Rp. 12 juta. Disebutkan penipuan kasusnya sewa menyewa mobil atau rental mobil. Kita menjadi bertanya tanya, ada apa dengan jaksa? Kalau pun masalah ini jadi perkara, ini ranahnya hukum perdata. Dalam penanganan perkara dipenyidikan ada istilah asas kepatutan. Apakah tersangka itu patut dipidana kurungan penjara?” ujar Jupryanto dengan penuh tanya.

Terdakwa Johan Hany Pinaria didakwa dengan Pasal 372 jo. Pasal 378 KUHP karena tidak membayar sewa rental mobil selama 3 bulan. Perbulan Rp. 4 juta. Jadi berjumlah Rp. 12 juta.

Padahal menurut terdakwa, dia tidak pernah menunggak saat masih menyewa mobil rental tersebut. Anehnya, polisi langsung menjadikannya tersangka tanpa melakukan pemanggilan sebagai saksi. Padahal sudah dikasih tahu bahwa mobil ditarik leasing karena kredit nunggak.

Menurut terdakwa, saksi Sugandi waktu itu mengalami sakit jantung dan mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit. Uang setoran sewa mobil habis buat berobat dan pembayaran kredit mobil macet.

Sugandi yang sudah terlanjur membuat laporan Polisi berusaha mencabut laporan Polisi. Tetapi polisi tetap melanjutkan perkara dan Jaksa pun menerima dan menyatakan P21. Hingga pelapor Sugandi meninggal dunia Jaksa tetap melimpahkan perkara.

THOMSON

NO COMMENTS