Jaksa Perlakukan Istimewa Terdakwa Park Hae Jin

RadarOnline.id, SURABAYA – Park Hae Jin, pelatih Taekwondo KONI Jatim, asal Korea Selatan yang menjadi terdakwa atas kasus penyalahgunaan narkoba mendapat keistimewaan hukum. Pasalnya, selain didakwa pasal 127 (rehabilitasi), Jaksa Penuntut Umum (JPU), Farkhan Djunaedi dari Kejari Tanjung Perak, juga enggan menghadirkan Park Ingsun (berkas terpisah) pemilik tiga poket sabu yang terkait dalam kasusnya.

Tidak perlu, cukup pembuktian seperti dalam berkas,” ucap JPU Farkhan saat ditemui usai sidang, Rabu (6/12/2017).

Dalam sidang itu, kuasa hukum terdakwa menghadirkan dua saksi yang meringankan yakni Sumartono dan Sahril yang merupakan pengurus PBTI KONI Jatim.

Dalam keterangannya, Sumartono menjelaskan dirinya baru mengetahui ditangkapnya terdakwa setelah dihubungi anggota Sat Reskoba Polrestabes Surabaya. “Setelah dihubungi polisi, saya baru tahu kalau Terdakwa ditangkap,” ungkapnya.

Saksi menyatakan, terjerumusnya terdakwa diduga ada beban karena jauh dari keluarga. “Mungkin karena jauh dari keluarga,” ucapnya saat ditanya tim kuasa hukum.

Pernyataan saksi ini membuat Ketua Majelis Hakim Pujo Saksono marah dan membentak. “Kamu memberikan keterangan yang benar, jangan pakai kata mungkin kayak paranormal saja,” bentak Hakim Pujo.

Sedangkan saksi Sahril mengaku, tidak pernah melihat terdakwa mengkonsumsi narkoba didepannya. ” selama ini tidak pernah pakai,” ucapnya.

Sementara JPU Farkhan Djunaedi, kepada saksi hanya menanyakan ada tidaknya riwayat terdakwa dari ketergantungan narkoba. “Apakah saudara saksi pernah melihat atau ada pernyataan dari dokter, terdakwa ketergantungan narkoba,” tanya JPU Farkhan yang dijawab tidak, oleh kedua saksi.

Seperti diberitakan sebelumnya, diduga ingin dapat vonis ringan dalam kasus penyalahgunaan narkoba, Park Hae Jin, konsultan Taekwondo KONI Jatim yang jadi terdakwa kasus sabu mengganti kuasa hukum dari Rudy Wedhasmara kepada Firman.

Perlu diketahui, Park Hae Jin ditangkap anggota Sat Reskoba Polrestabes Surabaya pada Jumat (16/6/2017) di tempat tinggalnya Apartemen Gunawangsa. Dia kedapatan membeli sabu 2 poket seharga Rp 1,8 juta melalui SMS dari seorang bandar dengan sistem ranjau. Sesuai perintah yang diterima dalam SMS, uang transaksi ditaruh di kotak pos yang berada di basement apartemen.

Sebelumnya, petugas lebih dulu menangkap Park Ingsun (berkas terpisah) dan ditemukan barang bukti 3 poket sabu masing masing 0,108 gram, 0,069 gram dan 0,045 gram.

JPU Farkhan Djunaedi yang dipercaya menangani kasus ini mendakwa warga Korea Selatan itu dengan pasal 112 ayat (1) jo 127 Undang-Undang RI no 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

HARIFIN

NO COMMENTS