Massa Mantan Nasabah KSP Pendawa Datangi Kejari Depok 

RadarOnline.id, KOTA DEPOK – Kantor Kejaksaan Negeri Kota Depok, didatangi sejumlah massa mantan nasabah KSP Pandawa. Mereka melakukan aksi demo serta menuntut agar pihak kejaksaan agar transparan mengungkap aset aliran dana Pandawa yang disitanya.

Benar, jadi pihaknya meminta agar kejaksaan memberikan penjelasan tentang aliran aset Pandawa. Sebab, berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, total aset Pandawa mencapai angka hingga Rp 1,3 triliun. Namun, didapatkan data aset tersebut kini menjadi Rp 3,3 miliar,” ujar Kuasa Hukum nya mantan KSP Pandawa Deni AK, Senin (13/11), saat di depan kantor Kejari Depok, Jawa Barat.

Dia menjelaskan, bahwa selain aset dalam bentuk uang terdapat pula aset lain yang dipertanyakan, antara lain puluhan mobil, sepeda motor, serta surat-surat tanah.

“Jadi, kami menduga itu yang nilainya tidak kecil. Kajari bilang hitunganya bisa mencapai Rp 1,3 triliun, tapi ketika saya ajak hitung apprasial lagi dia nggak bisa jawab. Kami berharap agar jaksa sebutkan berapa jumlah keseluruhan aset yang disita secara terbuka dan transparan,” ucap Deni.

Dia menambhkan, bahwa pihaknya juga mencoba mengklarifikasi kepad Kepala Kejari Depok Sufari terkait rumor adanya pertemuan dengan salah satu pengacara di sebuah hotel di Mekah pada bulan Februari dan Maret lalu.

“Jadi sesuai hukum yang berlaku, pertemuan itukan tidak boleh dan sudah dianggap pelanggaran. Kalau dibilang silaturahmi ya harusnya katakan jangan sampai menjadi rumor,” pungkas Deni.

Deni juga mempertanyakan, bahwa laporan awal tindak kejahatan Bos Pandawa Salman Nuryanyo. Sebab, menurut laporan dari ke kepolisian adalah Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Sebab, dari awalnya TPPU tiba-tiba sampai disini (Kejaksaan) hilang. Nuryanto tidak didakwa dengan UU TPPU. Meski hukuman UU perbankan tinggi, TPPU kan bisa bisa dimaksimalkan,” tandas pengacara mantan nasabah KSP Pandawa itu.

Sementara ditempat yang sama, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fauzi menerangkan, bahwa sidang Pandawa memasuki  tahap tuntutan dan dibacakan secara terbuka. Jadi, siapapun boleh mendengar misalnya berapa tuntutan nya, asetnya berapa didalam persidangan.

“Jadi, jika terkait aset dan lain-lain secara lengkap disampaikan di persidangan. Namun isi tuntutan tersebut sifatnya rahasia. Jadi, yang boleh tahu hanya jaksa yang bersangkutan, dan pimpinan. Bahkan kami sendiri juga nggak mengetahuinya,” terang Fauzi, yang sempat menemui pendemo di depan pintu gerbang kantor Kejari itu.

Mendengar pernyataan Jaksa tersebut, massa mulai rusuh dan meminta agar Kepala Kejaksaan berhadapan langsung menemui mereka. Massa yang sudah emosi mengatakan jika Kajari tidak berani berhadapan dengan pendemo.

Keadaan mulai tidak terkendali sehingga massa memaksa masuk ke dalam pintu gerbang. Namun hal tersebut langsung dapat dikendalikan oleh petugas kepolisian Polsek Sukmajaya dan dibantu dengan Sabhara Polresta Depok.

MAULANA SAID

NO COMMENTS