STKQ Al-Hikam: Pendidikan di Daerah Pelosok Manapun Perlu di Prioritaskan

RadarOnline.id, KOTA DEPOK – Pengasuh Pengasuh Pesantren Al-Hikam KH. Yusron As-Shidqi mengungkapkan bahwa pendidikan di daerah pelosok manapun perlu di prioritaskan, seprti Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok ini, telah menggelar Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan II. Jadi, para lulusan yang juga penghafal Al-Qur’an itu bisa mengamalkan ilmu yang di dan mengabdikan diri di masyarakat. 

“Artinya, kami berharap para wisudawan bisa terus berkhidmat pada umat yang membutuhkan, sehingga bisa menginspirasi almamater lain untuk mewajibkan wisudawannya. Perlunya berkhidmat kepada masyarakat di pelosok. Andai seluruh fresh graduate seluruh Universitas mengabdi pada masyaakat sebagai gerakan Nasional, maka mimpi tentang kesetaraan pendidikan di kota dan pelosok akan tercapai,” ungkapnya, Sabtu (7/10), di hadapan Gubernur NTB Dr. TGB. Dr. KH. Zainul Majdi, Pengurus MUI, Syekh Saman Ahmad Hasanain dari Al-Azhar Mesir dan lainnya, di Kukusan, Beji Depok, Jawa Barat.

Dia menerangkan, bahwa selama ini juga sudah ada yang telah mengirimkan mahasiswa atau tenaga pengajar ke daerah pelosok Indonesia. Menurutnya, bila ada kesetaraan Pendidikan yang di Kota dan Pelosok maka Indonesia akan kuat. Terlebih lagi, bangsa ini mempunyai banyak Sumber Daya. Ia mencontohkan, sejumlah Negara lain mengirimkan siswanya keluar dan setelah itu kembali mengajar atau mengabdi untuk Negaranya. 

“Jadi, kita sudah usulkan ke Pemerintah terkait usulan agar adanya pengiriman mahasiswa fresh graduate atau tenaga pengajar ke Pelosok. Selama ini juga ada yang menjalankan program tersebut, cuma kalau dilakukan secara massal dan gerakan Nasional seperti di rolling tiga bulan sekali maka akan memiliki dampak sangat baik di dunia pendidikan. Jangan sampai, setelah lulus yang mereka pikirkan hanya pemenuhan materi saja. Namun, perlu juga mengedepankan pengabdian dan berkhidmat pada masyarakat,” terang Yusron.
 
Yusron juga berpesan kepada umat Islam agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan. Jangan sampai, lanjutnya, perbedaan bisa berujung pada perpecahan. Apalagi,lanjutnya, bangsa Indonesia terbesar jumlah penduduk muslimnya. 

“Artinya, saatnya rekonsiliasi untuk umat Islam. Yaitu: dengan cara memaafkan kesalahan dan lebih mementingkan sesuatu yang lebih maslahah. Dalam Al-Qur’an sendiri ada kisah Nabi Yusuf yang memaafkan kesalahan  saudaranya. Masih ada contoh dalam Al-Qur’an yang bisa dijadikan teladan bagi kita,” ucap putra bungsu Almarhum KH. Hasyim Muzadi itu.

Sementara ditempat yang sama, Ketua Penyelenggara Ust. Hamzah menambahkan, bahwa wisuda di tahun kedua ini STKQ Al-Hikam meluluskan sebanyak 22 wisudawan yang juga telah hafal Al-Qur’an 30 juz. Dirinya menilai, para wisudawan ini memiliki kecerdasan yang lebih dibanding dengan lainnya. Pasalnya, menjadikan Al-Qur’an sebagai hafalan, pondasi dan ilmu dengan kata lain sudah seperti lem. Terlebih lagi, lanjutnya, para wisudawan ini telah menjalankan tugas pengabdian selama setahun ke daerah pelosok sebagai persyaratan perkuliahan.  

“Maka dari itu, dirinya berharap agar para wisudawan ini dapat mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan membangun bangsa. Jadi,kita berharap mereka dapat mengamalkan ilmunya untuk masyarakat dan bangsa,” ujarnya. (Maulana Said)