Polsek Cimanggis Gelar Rekonstruksi Kasus Buang Bayi

0
9

RadarOnline.id, KOTA DEPOK – Kepala Polisi Sektor Cimanggis Kota Depok, Komisaris Polisi Sunarto membenarkan, bahwa anggota Satreskrimnya yang dipimpin Kasubnit Reskrim Iptu Saifulloh, telah menggelar rekonstruksi pembuangan (reka ulang) bayi yang dilakukan oleh ibunya sendiri ke dalam sumur di Kp. Cimpaeun RT 01 RW 25,Tapos Kota Depok, Jawa Barat.

Artinya, untuk mengantisipasi hal tidak diinginkan terjadi di TKP, maka penjagaan ketat yang dilakukan oleh petugas kami. Jadi, kita perketat atas pelaku lantaran rekontruksi di TKP langsung. Selama rekontruksi semua berjalan aman dan lancar,” ujarnya, Jumat (15/9).

Menurutnya, bahwa rekontruksi ini sebagai salah satu penambah alat bukti di persidangan nanti selain alat-alat bukti lainnya yang sebelumnya sudah didapatkan petugas.

“Untuk mencari tambahan alat bukti saja rekontruksi dilakukan dan melihat seperti kejadian yang sebenarnya dapat terungkap sebenarnya,” tutur Sunarto.

Sunarto menambahkan, bahwa pelaku Novianti (21), berhasil ditangkap anggota Buser di kediaman Kp Babakan lapang sukajadi Rt 007/001 kec.campaka Cianjur Selatan, 18 Juli silam. “Sebab, sebelumnya pelaku diketahui kabur setelah membuang bayi perempuan yang baru dilahirkan lalu dibuang ke sumur,” pungkasnya.

Sementara itu, kuasa hukum pelaku Herman Dione menerangkan, bahwa ada sebanyak 16 adegan yang diperagakan oleh pelaku sambil dijaga ketat oleh petugas kepolisian di tempat kejadian perkara.

“Jadi, dalam rekontruksi yang dilakukan langsung di TKP pelaku melahirkan korban di kamar mandi setelah itu bayi perempuan yang baru dilahirkan dibekap oleh pelaku sampai meninggal. Bayi akhirnya meninggal lalu dibuang pelaku ke dalam sumur dekat kamar mandi,” terangnya.

Dia menjelaskan, bahwa kasus tindak pidana pembunuhan bayi atau anak kandungnya sendiri yang disangkakan ke pelaku, sesuai dengan Pasal 80 ayat 3 dan 4 UU Perlindungan Anak (ancaman hukuman 20 tahun dan denda 3 miliar) Jo Pasal 341 KUHP Pidana ancaman 7 tahun.

“Namun, jika nanti dalam persidangan pelaku dapat dibuktikan hanya melanggar Pasal 181 KUHP ancaman pidana hanya 9 bulan. Tapi jika si bayi itu juga meninggal dalam kandungan,” jelas Herman.

Herman menambahkan, bahwa berdasarkan hasil melihat rekontruksi membuktikan pelaku menghabisi bayinya sendiri dengan cara disekap tangan pelaku lantaran takut menangis.

“Jadi artinya, untuk Pasal 181 KUHPnya sudah barang tentu secara otomatis akan gugur,” ujarnya. (Maulana Said)