Polres Simalungun Tangkap Pelaku Uang Palsu

Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty Panjaitan, S.IK, MH didampingi Kasat Reskrim Polres Simalungun AKP Damos C. Aritonang S.IK dan Kanit Jahtanras Sat Reskrim Polres Simalungun Iptu Zikri M, S.IK saat memaparkan kasus peredaran uang palsu.

RadarOnline.id, SIMALUNGUN – Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan SIK MH didampingi Kasat Reskrim Polres Simalungun AKP Damos C. Aritonang SIK, Kasubbag Humas Polres Simalungun AKP J. Sinaga dan Kanit Jahtanras Sat Reskrim Polres Simalungun Iptu Zikri M SIK memimpin pemaparan terkait kasus peredaran uang palsu yang berhasil diamankan beberapa waktu lalu.

Peristiwa tindak pidana pemalsuan uang tersebut diketahui dan ditemukan di rumah Hariati Br Damanik yang terletak di Dusun Nagori Hanopan Nagori Silau Paribuan Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun. Dua pelakunya, Ahmad Aryo alias Ahua (44) dan Hendro Siahaan (28). Kedua pelaku merupakan warga Dusun II Kota Galuh Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai melakukan tindak pidana tersebut bersama dengan 2 (dua) orang rekannya yang sampai saat ini masih dilakukan pencarian,” ungkap Kapolres Simalungun di Kantor Sat Reskrim Polres Simalungun, Sabtu (5/8).

Dengan modus dapat menggandakan uang dari bank gaib. Aksinya tersebut diketahui saat bulan Maret 2017, seorang warga bernama Sugiono didatangi seorang laki-laki bernama Wak Lembek menanyakan apakah ada orang yang mampu mengangkat uang dari bank gaib.

Saat itu, Sugiono langsung menjawab ada, dan mempertemukannya dengan pelaku Ahmad Aryo di rumah pelaku. Dengan bermaksud untuk menyampaikan perihal mengangkat uang dari bank gaib di Negeri Tongah.

Masih penuturan Kapolres, setelah dijelaskan, pengertian bank gaib tersebut adalah bahwa di dalamnya ada terdapat uang Soekarno yang jumlahnya sebanyak 5 (lima) triliun dan diperlukan berbagai persyaratan. Antara lain,bunga, kain putih dan minyak yang secara keseluruhan diperkirakan sebesar Rp. 3.000.000.-.

Mendengar hal tersebut, Ramlan alias ROM (54) Karyawan PTPN III Silau Dunia, Warga Dusun Hanopan Nagori Silau Paribuan Kabupaten Simalungun, percaya dimana istrinya Hariati Br Damanik (50) menyanggupi dengan menyerahkan uang sesuai dengan persyaratan yang disebutkan pelaku.

Keesokan harinya, Wak Lembek mengatakan kepada Ahmad Aryo, bahwa bank gaib berada di rumah Supardi. Saat dilakukan “ritual” pengangkatan yang saat itu disaksikan Wak Lembek, Ramlan dan istrinya Hariati Br Damanik, tidak berhasil. Namun pelaku Ahmad Aryo tidak kehilangan akal, dia mengatakan syaratnya dengan uang sebesar Rp. 2.500.000.-. Mendengar itu, Hariati Br Damanik kembali menyanggupi dengan menyerahkan kembali uang tersebut.

Selanjutnya, pelaku kembali melakukan aksi “ritual”nya. Namun tetap tidak berhasil memenuhi permintaan dari para korbannya. Korban sudah merasa tertipu karena telah mengalami kerugian sebesar Rp 60.000.000 secara bertahap, karena sebelumnya pelaku mengaku dapat menggandakan uang mencapai Rp 6.7 miliar.

Akhirnya pelaku Ahmad Aryo mulai ketakutan karena tidak dapat memenuhi permintaan korbannya. Ahmad Aryo meminta pertolongan kepada temannya, Hendro Siahaan untuk mencarikan orang yang dapat mencetak uang palsu.

Atas permintaan Ahmad Aryo, Hendro Siahaan bersama dengan 2 temannya berinisial yang sama yakni “D”, melakukan pencetakan uang palsu. Setelah tercetak, uang palsu tersebut diserahkan kepada Ramlan dan istrinya dengan cara memasukkan ke dalam kamar korban.

Sebelumnya, pelaku berpesan kepada kedua korban bahwa sesuai dengan syarat uang tersebut belum dapat diambil, namun karena penasaran, Ramlan dan istrinya masuk ke dalam kamarnya dan menemukan uang ratusan ribu sebanyak 15 lembar. Karena Hariati Br Damanik memiliki utang sebesar Rp 200.000 dirinya langsung membayarkan kepada temannya bernama Wita Tani. Menerima uang dan merasa curiga uang tersebut palsu, Wita Tani pun mengembalikannya.

Mengetahui peristiwa uang palsu tersebut, pihak Kepolisian Simalungun langsung menyelidikinya. Hasilnya, Polisi mengamankan kedua pelaku bersama barang bukti berupa 1 unit printer Pixma warna putih dan 15 lembar uang pecahan seratus ribu rupiah ke Polres Simalungun.

Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 36 UU RI nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000.000.- (John Sihombing)