Daun Jeruk Purut Dongkrak Penghasilan Warga Tulung Agung

RadarOnline.id, TULUNG AGUNG – Pohon jeruk purut (Unte Pangir) banyak dibudidayakan di pekarangan rumah dan bukan termasuk dalam spesies tanaman yang terdaftar dalam status konservasi (tidak terancam punah). Perbanyakan bisa dilakukan dengan biji atau dengan pencangkokan. Namun jika membudidayakannya dengan biji, pertumbuhannya akan sangat lama. Dikhawatirkan benih mati sebelum sempat tumbuh.
Yang paling cepat dan efisien adalah metode sambungan. Batang bawah bisa menggunakan jeruk dari jenis Rugh Lemon dan disambung di atasnya dengan jeruk purut.

Dalam pembudidayaan tanaman jeruk purut, yang penting adalah intensitas cahaya Matahari. Kelihatannya tanaman ini tidak terlalu suka dengan tingkat penerimaan cahaya yang tinggi. Pertumbuhan daunnya mungkin akan tetap tinggi, tetapi perkembangan cabang dan ranting menjadi agak tersendat. Oleh karena itu sebaiknya jeruk purut diberi naungan khusus dan mengatur kerapatan antartumbuhan sekitar 40 – 50 cm.

Hingga saat ini masih sangat sedikit pembudidaya jeruk purut di tanah air. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi tentang peluang dan manfaatnya secara umum. Padahal, membudidayakannya tidaklah sulit.

Menurut Ir. Arry Supriyanto, MS, dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), sementara ini sentra produksi jeruk purut di Indonesia ada di Kabupaten Tulungagung. Perkiraan luasnya 2.080 hektar dengan rincian: Kecamatan Sumbergempol 760 hektar, Kecamatan Ngunut 1.020 hektar, dan di Kecamatan Rejotangan 300 hektar.

Pembudidayaannya dengan cara penyambungan tunas pucuk dan ditanam di area persawahan dan lahan berlereng. Jika ditanam di perbukitan, dapat menggunakan cara alternatif, sengkedan.

Lahan yang akan ditanami mesti dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Ukuran jarak tanam ideal 6 x 7 m, disesuaikan dengan karakter pertumbuhan jeruk purut. Dibutuhkan teknik khusus dalam pembuatan lubang tanam, yaitu hanya bisa diterapkan di tanah yang belum diolah 2 minggu dan tanah bagian dalam dipisahkan dari lapisan atas (setinggi 25 cm). Tanah lapisan atas dicampur dengan pupuk kandang. Setelah penanaman tanah dikembalikan lagi ke tempat asalnya.

Bedengan berukuran 1x1x1 m pun hanya dibuat jika jeruk purut ditanam di area tanah sawah.
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau. Tetapi sebaiknya ditanam pada awal musim hujan. Setelah bibit ditanam, siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, daun kelapa, atau daun-daunan yang bebas penyakit. Peletakan mulsa sedemikian rupa sehingga tidak menyentuh batang. Ini untuk menghindaripembusukan batang.

Sebelum tanaman berproduksi dapat dilakukan tumpang sari sebagai tanaman sela, seperti kacang-kacangan atau sayuran. Setelah itu tanaman sela diganti oleh rumput sebagai penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.

Pemangkasan cabang dilakukan sebagai perawatan tanaman tersebut. Teknik pemangkasan adalah pangkas dasar dan pangkas pemeliharaan. Pangkas dasar dilakukan setelah tinggi tanaman melebihi 60 cm. Tujuannya adalah untuk mendapatkan percabangan dan bentuk pohon yang lebih baik agar dapat berproduksi optimal dan memudahkan perawatan kebun. Tahapan pemangkasan dasar meliputi pemotongan batang utama, pemeliharaan tunas, kemudian pemilihan, dan pemeliharaan cabang utama.

Sementara pangkas pemeliharaan dilakukan bersamaan atau setelah panen. Pangkas pemeliharaan ini dimaksudkan untuk menjaga kesehatan, kestabilan produksi dan kualitas buah, serta untuk peremajaan dan pembentukan profil pohon.

Tanah yang ideal untuk jeruk purut adalah lempung sampai lempung berpasir dengan cukup humus, tata air, dan udara baik. Jenis tanah andosol (tanah yang berasal dari gunung api) dan latosol (tanah yang mengandung zat besi dan alumunium) juga pilihan yang cocok untuk budidaya jeruk. Namun, itu harus didukung kadar air tanah yang optimal pada kedalaman 150 – 200 cm di bawah permukaan tanah, karena jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10 persen.

Tanaman ini akan tumbuh baik di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 30o dan di ketinggian 1 – 400 m dpl.

Buah jeruk dapat dipanen pada saat masak optimal. Biasanya berumur 28 – 36 minggu dan panen optimal pada tahun ke-3. Untuk perkiraan produksi, tiap pohon rerata bisa menghasilkan sekitar 300 – 400 buah per tahun, bahkan bisa sampai 500 buah per tahun.

Menurut Arry, contoh kisah sukses adalah yaitu Pak Wawan (37) seorang mantri kecamatan Sumbergempol. Lahan pribadinya sekitar 1 hektar, setiap tahun minimal panen 10 ton daun jeruk purut. Panen dilakukan tiap 6 bulan sekali.

Dengan harga yang kompetitif dalam tiga tahun ini, para petani jeruk purut mampu tersenyum lebar. Bayangkan saja, harga daun jeruk purut Rp17.000,-/ kg dan batangnya pun dihargai Rp1.000,-/kg untuk disuling. Sedangkan untuk buah dihargai Rp10.000,-/kg. Pantas saja bila petani memilih menjual daun dan batangnya,” jelas Arry. (Osran Simanjuntak)

NO COMMENTS