Terdakwa Kasus Penggelapan Akui Siapkan Uang Pelicin

Ketua Majelis sidang kasus terdakwa Chin Chin, Unggul Warso Murti. (RadarOnline.id)

RadarOnline.id, SURABAYA  – Pengalihan status penahanan terdakwa perkara penggelapan dan pencurian dokumen perusahaan PT Blauran Cahaya Mulia (BCM) Trisulowati Yusuf alias Chin-Chin mendadak menjadi ‘rasan-rasan’ berbagai kalangan di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, khususnya para wartawan.

Hal itu karena muncul kabar bahwa pengalihan status penahanan Chin Chin menjadi tahanan kota bisa dikabulkan hakim karena ada uang ‘pelicin’ ratusan juta rupiah.

Dugaan adanya praktik ‘jual beli’ pengalihan status penahanan tersebut bisa jadi bukan sekadar rumor. Pasalnya, kabar itu diungkapkan sendiri dari oleh Chin Chin saat di temui wartawan di Rumah Tahanan (Rutan) Medaeng beberapa waktu lalu.

Ketika itu, mantan Direktur Utama perusahaan yang mengelola gedung Empire Palace Surabaya tersebut menyatakan bahwa dirinya telah menyiapkan uang Rp 600 juta untuk penangguhan penahanan atau pengalihan status penahanan menjadi tahanan kota.

Rencananya, uang tersebut akan diserahkan kepada pihak-pihak yang menyidangkan perkara konflik suami–istri, antara Gunawan Angka Wijaya selaku pelapor dengan istrinya, Chin Chin.

Pernyataan Chin Chin soal uang ratusan juta untuk pengalihan status penahanan tersebut kini semakin heboh di kalangan wartawan di PN Surabaya.

Upaya Chin Chin untuk lepas dari penahanan sebenarnya sudah tampak beberapa saat usai pelimpahan berkas tahap ke dua di Kejaksaan Negeri Surabaya, 23 Nopember 2016 lalu dinyatakan berkas dinyatakan lengkap (P21).

Saat itu, Ketua tim Penasihat hukum Chin Chin, ‎Nizar Fikkri SH langsung mengajukan penangguhan penahanan dengan alasan tersangka (status Chin Chin saat itu) memiliki tiga anak masih kecil dan yang butuh perhatian. Namun upaya Nizar gagal. Sebab Kasi Pidum Kejari Surabaya, Joko Budi Darmawan SH dengan tegas menyatakan menolak.

“Kami akan menolaknya, karena kami tidak ingin mempersulit saat sidang berlangsung,” tegas Joko.

Eksepsi Chin Chin Janggal

‘Skenario’ mengeluarkan Chin Chin dari balik jeruji besi pun terus dijalankan. Hal itu terbukti dari munculnya berbagai ‘drama’ saat perkara dugaan penggelapan dan pencurian dokumen ini di sidangkan di PN Surabaya, pada Rabu (14/12). Salah satu diantaranya adalah kehadiran ratusan massa yang mayoritas wanita setengah baya pendukung Chin Chin di pengadilan.

Ratusan masa berhijab tersebut diduga sengaja didatangkan dalam sidang agenda pembacaan surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk mempengaruhi majelis hakim.

Beberapa dari massa perempuan tersebut ada yang menangis dan berteriak memberikan dukungan untuk Chin Chin ketika terdakwa dugaan pencurian dalam keluarga ini mulai turun dari mobil tahanan dan berjalan menuju ruang tahanan sementara di PN Surabaya.

Drama dalam persidangan untuk mengeluarkan Chin Chin dari Rutan Medaeng kembali tampak saat sidang pembacaan eksepsi oleh terdakwa pada Senin (19/12). Dalam nota keberatannya, Chin Chin memohon kepada majelis hakim agar untuk menjadi tahanan kota. Saat itu, ibu tiga anak ini mengaku kalau putri ketiganya yang bernama Laurence sakit radang tenggorokan dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Upaya Chin Chin ‘bebas’ dari Rutan Medaeng dengan alasan anaknya sedang sakit pun membuahkan hasil. Sebab Ketua Majelis Hakim Unggul Warso Murti mengabulkan permohonan pengalihan status penahanan Chin Chin dari tahanan negara menjadi tahanan kota.

Kejanggalan putusan hakim mengabulkan permohonan pengalihan status penahanan terdakwa ini tampak secara kasat mata di persidangan. Pasalnya, saat permohonan terdakwa dikabulkan dalam sidang pembacaan eksepsi terdakwa pada Senin (19/12), Laurence anak Chin Chin yang disebut dalam eksepsi sedang sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit tersebut justru hadir di ruang sidang hari itu juga bersama kakaknya, James.

“Mama gak salah,” ucap Laurence dengan suara nyaring seperti tidak sedang mengalami sakit radang tenggorokan.

Bahkan, Laurence yang tidak menunjukkan tanda-tanda sedang sakit itu sempat diminta membacakan eksepsi Chin Chin. Namun permohonan tersebut ditolak. Malah hakim merintahkan dua anak dari hasil penikahan Chin Chin dengan Gunawan itu meninggalkan ruang sidang.

“Tidak boleh, kalau anakmu bawa catatan kamu (Chin Chin) saja yang baca, dan untuk anaknya tidak boleh di ruang sidang. Harus di luar,” ujar Unggul di penghujung sidang yang dihadiri oleh ratusan ibu-ibu yang didatangkan untuk mendukung Chin Chin itu.

Munculnya berbagai ‘drama’ dalam persidangan belakangan ini kian menguatkan adanya ‘pelicin’ seperti yang disebutkan sendiri oleh terdakwa Chin Chin.

Terkait santernya isu uang ratusan juta untuk penangguhan Chinchin, kuasa hukum Gunawan Angka Widjaja, Teguh Suharto Utomo SH sangat menyesalkan. “Kalo bener seperti itu berarti Chinchin melalui Penasehat Hukumnya telah melakukan perbuatan sangat tercela, melukai rasa keadilan dan saya berharap Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi yudisial serta Badan pengawasan turun gunung, ke surabaya untuk menyelidiki adanya dugaan aroma kuat konspirasi yang berujung pada  korupsi,” ucap Teguh.

Kuasa Hukum Chinchin Nizar pikkri saat dikonfirmasi melalui Handphone mengatakan terkait masalah uang jaminan penangguhan, tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu soal itu,” singkatnya. (Harifin)

NO COMMENTS