Pertanyaan Rolas Sitinjak Sadarkan Persidangan

0
48

RadarOnline.id, JAKARTA – Persidangan yang tertutup, membuat hanya segelintir orang saja yang menyadari kalau ternyata persidangan yang digelar untuk mengadili kasus penistaan agama dengan mendudukkan Gubernur DKI Jakarta (yang sedang cuti) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, telah salah dasar dan tak seharusnya persidangan digelar.

Pihak Kejaksaan yang menghadirkan para saksi, dengan tujuan untuk memperkuat dakwaan, kini terbukti telah mengabaikan prinsip ketelitian.

Pasalnya, dalam isi laporan yang diberikan oleh saksi pelapor saat di BAP oleh pihak Kepolisian, ternyata Locus dan Tempus delicti (tempat dan waktu terjadinya tindak pidana) sangat berbeda. Padahal semua praktisi hukum, sudah pasti mengakui ketepatan Locus dan tempus delicti adalah yang utama dan yang pertama sekali dipasti benarkan sebelum diputuskan persidangan pidanan dilakukan atau tidak.

Dalam persidangan kelima, Selasa 10 Januari lalu, di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, saat pemeriksaan saksi pelapor atas nama Willyuddin Abdul Rasyid Dhani, terungkap dalam BAP yang dibuat tanggal 07 Oktober 2016 di Polres Bogor Kota, Willyuddin menyebut kalau tempat (Locus delicti) Ahok pidato ditempat dan waktu yang sama sekali berbeda.

Sebelumnya masalah Locus dan Tempus delicti ini tidak mendapat perhatian, sampai salah satu Tim Penasihat Hukum Basuki Tjahaja Purnama, Rolas Budiman Sitinjak mengajukan pertanyaan.

Saat mendapat kesempatan terakhir untuk mengajukan pertanyaan pemeriksaan saksi pelapor, Rolas Budiman Sitinjak, SH, MH, dengan kejeliannya menanyai Willyuddin tentang tempat dan waktu kejadian.

“Dimana dan kapan pidato Ahok” tanya Rolas.

Namun bukannya menjawab, Saksi Willyuddin justru menyebut Penasihat Hukum sudah ngantuk.

“Sudah ngantuk kamu, dari tadi kan sudah ditanyakan Hakim dan Jaksa” kata Willy seraya meminta Majelis Hakim untuk menegur Rolas.

Hakim pun terbawa dengan permintaan saksi, lalu menegur Rolas untuk tidak mengulang pertanyaan yang sama. Tapi Rolas segera menandaskan kalau pertanyaan yang diajukannya penting untuk dijawab.

“Yang Mulia, ini Penting untuk dijawab,” tegasnya.

Selanjutnya Hakim memerintahkan saksi untuk menjawab.

“Kejadiannya tanggal 06 September 2016, di Tegallega Gg. H. Hasbullah III Rt 004/001 Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, “ jawab Willy.

Rolas lalu meminta Majelis Hakim untuk meninjau hal yang sangat prinsip dalam persidangan pidana, terkait lokasi dan waktu peristiwa.

“Yang mulia, saksi ini telah berdusta, kita semua tau dimana tempat dan waktu kejadian yang sebenarnya, Bapak Ahok pidato tanggal 27 September 2016 dan tempatnya adalah di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu Jakarta Utara.

Namun bukannya mengakui kesalahannya, saksi Willyuddin justru menyalahkan petugas yang mem BAP dirinya.

Rolas lalu meminta Majelis Hakim menggelar Verbalisim atau menghadirkan petugas yang melakukan BAP di persidangan.

Seperti baru tersadar, Majelis Hakim pun menghentikan sidang malam itu, dan menyebut agar petugas yang mem BAP dihadirkan pada sidang selanjutnya.

Masyarakat awam kini ikut tersadar, kalau persidangan Ahok, hanya menghabiskan waktu dan tenaga dari pihak yang berwenang untuk memutus perkara ini. Kita masih ingat bagaimana persidangan ini bergulir dengan diawali berbagai aksi, yang membuat masyarakat ikut merasakan imbasnya. Ternyata prinsip dasar persidangan pidana telah sejak awal terabaikan.

“Locus dan Tempus delicti adalah dasar dari berwewenang atau tidaknya suatu pengadilan mengadili suatu perkara (kompetensi relative), atau dapat tidaknya suatu hukum pidana diberlakukan terhadap suatu perkara, atau dengan perkataan lain syarat mutlak sahnya surat dakwaan,” tandas Rolas. (Osran Simanjuntak)