Sejak Lama Saksi JPU Novel Chaidir Hasan Provokasi Ahok

0
11

RadarOnline.id, JAKARTA – Sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok kembali digelar hari ini, Selasa (3/1) oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara, bertempat di Auditorium Kementan, Jakarta Selatan, dengan agenda persidangan pemeriksaan beberapa saksi yang dihadirkan oleh JPU.

Namun terhadap keterangan dari Saksi- Saksi yang telah dimintai keterangannya pada hari ini, Tim Penasihat Hukum BTP menyebut sangat yakin jika keterangan yang diberikan saksi hanya didasari rasa sentiment pribadi terhadap Ahok.

“Bukan berdasar pada fakta hukum bahwa Basuki Tjahaja Purnama melakukan dugaan tindak pidana, dan terhadap kasus yang kini bergulir diyakini merupakan crime engineering atau telah terencana terhadap Basuki Tjahaja Purnama, “ kata Rolas Budiman Sitinjak, SH, MH, salah satu tim Penasihat Hukum Basuki Tjahaja Purnama di depan pintu gedung Auditorium, Selasa (3/1) sore.

Dilanjutkannya, Saksi Novel Chaidir Hasan Bamu’min (Novel) yang merupakan Pengurus Ormas FPI jelas dan nyata pada Tanggal 2 September 2016 bertempat di rumah Amanah Rakyat di Jl. Cut Nyak Dien 5 Menteng Jakarta, dalam Pertemuan dengan judul “Jakarta Tanpa Ahok”, yang dihadiri oleh beberapa elemen organisasi masyarakat dimana Novel hadir mewakili FPI.

Dalam pertemuan tersebut Novel menyatakan dalam orasinya yang isinya mencaci dan menghina Basuki Tjahaja Purnama “Belum ada Gubernur Seburuk Ahok. Dia Makan Babi, Minumnya Air Comberan, Perutnya Kotor, Dia Haram”. Dan dalam orasinya tersebut Novel juga menyampaikan kata-kata Provokatif yang isinya “Yang tidak berani lawan Ahok akan masuk neraka. Salatnya, ibadahnya tidak akan diterima Tuhan. Lawan Ahok sampai darah penghabisan, tidak usah takut.”

Semua itu membuktikan kalau saksi Novel telah memiliki sentiment atau ketidaksukaan secara personal dan memiliki tujuan menjatuhkan Basuki Tjahaja Purnama jauh sebelum pidato Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016, sehingga sudah ada niatan untuk mengkriminalisasi Basuki Tjahaja Purnama.

Rolas menambahkan kalau Saksi Novel ternyata tidak meyaksikan langsung kejadian di Pulau Pramuka saat Ahok mengeluarkan kata-kata yang kemudiaan menjeratnya menjadi terdakwa.

“Di dalam fakta persidangan yang bersesuaian dengan BAP saksi pada tanggal 16 Nopember 2017, pada saat ditanyakan oleh Majelis Hakim bahwa saksi melihat video dari whatsApp yang isinya “jangan mau dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam – macam itu, ” tambah Rolas, Ketua DPD Kongres Advokad Indonesia (KAI) DKI Jakarta itu.

Saksi tidak mengetahui secara jelas dan pasti atas kebenaran isi pidato oleh Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu tersebut karena isi pidato yang disampaikan oleh saksi tidak lengkap.

Di dalam fakta persidangan terungkap bahwa saksi melakukan laporan sebelum adanya Pendapat dan Sikap Keagamaan dari MUI (yang menurut saksi adalah fatwa), artinya saat melakukan pelaporan, Saksi hanya menyimpulkan dan berdasarkan asumsi pribadi bahwa BTP telah menistakan agama, disini jelas atas sikap ketidaksukaan saksi terhadap Basuki Tjahaja Purnama sedari awal padahal seharusnya sebelum melakukan laporan haruslah melakukan Tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu kepada Basuki Tjahaja Purnama.

Terungkap dalam persidangan saksi tidak konsisten dalam menerangkan atas keterangan yang dimaksudkan oleh saksi dalam BAP pada tanggal 16 Nopember 2016 pada poin 14, apakah fatwa ataukah sikap dan pendapat karena mengenai isi dari keterangan saksi di persidangan dengan keterangan dalam BAP tidak Sesuai.

Saat Dr. Humphrey, Satu dari Penasihat Hukum Ahok mempertanyakan sikapnya, Novel mengakui memang telah lebih dulu memilki sikap tidak suka terhadap Basuki Tjahaja Purnama. (Osran Simanjuntak)