Pahala Saragih Protes Workshop U-Ditch Kalangan LSM Berang

0
57

RadarOnline.id, DEPOK – Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Gelombang Kota Depok, Cahyo Putranto mengibaratkan, bahwa ada sebuah lagu lama, tapi kaset kasut. Begitulah kira-kira analogi yang ditudingkan ke sosok pria bernama Pahala Saragi Napitu. sebab, Pahala adalah seorang pengusaha atau pemborong dan biasa mencari dan mendapatkan pekerjaan proyek di Pemerintah Kota (Pemkot) Depok.

“Artinya, Pahala adalah Direktur Utama CV Putra Parna, lantas juga menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Konstruksi Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional (Gabpeksi) Kota Depok,” ujarnya, kepada sejumlah pewarta, Selasa ,1 November 2016 di Depok.

Dia menjelaskan, bahwa Pahala kerap tak mendapat proyek, selama 2 tahun berkiprah, mulailah Pahala ‘putar otak’ agar dengan mudah mendapatkan proyek. Modus yang dimainkannya yakni mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dengan label LSM Pemerhati Pembangunan yang berkedudukan di Kota Depok. Pahala sebagai ketua umumnya dan Direktur CV Astrid, Welsen Nainggolan sebagai sekretaris.

“Jadi mereka kemudian mulai memainkan modus ‘lagu lama, kaset kusut’ yakni mencari proyek, memaksakan kehendak dan harus mendapatkan proyek dengan menghalalkan segala cara ke beberapa dinas di Pemkot Depok terutama ke Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) serta ke Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Tarkim),” jelas Cahyo.

Menurutnya, bahwa modus sebenarnya sudah basi, lagunya sudah ngga laku dipasaran. Info yang kami peroleh, diduga keduanya kerap memaksa meminta jatah proyek, dengan ‘segudang ancaman’. Jika tak diberi proyek dengan label LSM melaporkan para pejabat dan para kontraktor yang mendapatkan proyek ke pihak kepolisian dan kejaksaan.

“Jadi tak hanya itu, lanjut Cahyo, Pahala yang berdasarkan informasi yang diperolehnya juga merupakan tenaga marketing perusahaan penyedia saluran beton precast (U-Ditch) dari PT JKS untuk wilayah kota Depok itu merasa tersaingi dengan keberadaan workshop atau pabrikan saluran beton precast (U-Ditch) PT Toba Duta Persada yang berada si wilayah Cimanggis, Depok,” Cahyo.

Cahyo menambahkan, lebih mirisnya lagi Pahala melaporkan PT Toba Duta Persada ke Pemkot Depok karena dianggap menyalahi Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok terkait Izin Operasional. Semua yang dilakukan, jelas motifnya persaingan bisnis. Saran saya berhentilah mencari uang dengan cara-cara kuno seperti itu, apalagi dengan menggunakan tangan polisi dan aparat kejaksaan untuk menakut-nakuti. Hari gini, sudah nggak lakulah.

” Namun, sedikit memberi masukan kepada keduanya agar kondusif dan tidak terjadi konflik yang akhirnya ‘meledak’. Masa sih semua profesi diborong, ngga sekalian juga si Pahala jadi wartawan dan jadi pengacara, biar yang lain nganggur. Berbagi peranlah, kalau jadi LSM ya jadi LSM, kalau jadi pengusaha yang pengusaha. Jangan diborong semua itu profesi, nanti muntah. Apa sih yang dicari sampai semuanya digarap sendirian begitu? Kalau memang sudah rezekinya, toh gak bakal kemana,” pungkasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Pahala membantah semua tudingan tersebut yang dialamatkan kepadanya. Menurutnya, bahwa tidak ada aturannya, pengusaha buat LSM atau sebaliknya.

“Jadi saya sebagai pengusaha wajar berusaha mendapatkan proyek dan saya sebagai LSM membantu mengawasi pelaksanaan proyek-proyek pemerintah agar dijalankan sesuai aturan serta berkewajiban melaporkan segala penyimpangan yang merugikan masyarakat dan pemerintah,” jelas Pahala.

Pahala menerapkan, bahwa terkait PT Toba Duta Persada yang memproduksi saluran beton precast (U-Ditch) itu menyalahi perijinan dan peruntukan berdasarkan Perda Tata Ruang Kota Depok. Mempertanyakan bahwa mereka sudah memproduksi, padahal baru mengantongi Ijin Peruntukan Ruang (IPR).

“Mereka juga tak memiliki ijin menggunakan jalan masuk milik pengelola Kuburan Cina, Yayasan Pendurenan Depok Bhakti. Kami sudah melaporkan ke Dinas Tarkim untuk ditindak,” terang Pahala.

Sementara Elmanto Tambunan, selaku Direktur utama PT Toba Duta Persada, juga membantah tuduhan Pahala tersebut kalau workshop U-Ditch yang berada di lahan seluas 4.800 m2 yang berada di RT 01, RW 01, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Depok.

“Usaha saya ini memiliki ijin lingkungan dari warga sekitar, RT, RW, Lurah dan Camat. Proses perijinannya sudah mengantongi IPR dan ijin lainnya sedang proses,” terangnya sambil menunjukkan bukti-bukti ijin yang dimilikinya kesejumlah wartawan yang mendatangi lokasi workshopnya.

Ditempat yang sama salah satu warga RT 01 RW 01, Cisalak Pasar, Nisan yang didatangi sejumlah wartawan menceritakan kalau lahan yang dijadikan workshop tersebut sebelumnya merupakan rawa-rawa yang ditumbuhi alang-alang yang tak produktif. “Kami warga senang karena ada 10 warga yang bekerja disini. Kami tak masalah dan tak merasa terganggu kok,” ucapnya.

Hal yang lain tokoh Anti Korupsi dari LSM Kapok Kota Depok, Kasno mengomentari bahwa dengan keberadaan workshop U-Ditch di Kota Depok akan mempermudah kerja dari para kontraktor, tentu juga akan memangkas biaya. “Hal lain akan berdampak positif bagi penyerapan tenaga kerja dan tentunya akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sector pajak. Jadi harus kita dukung segala macam bentuk usaha yang dapat menumbuh kembangkan potensi ekonomi di Kota Depok,” imbuhnya. (Maulana Said)