Satreskrim Polrestabes Surabaya Grebek Panti Pijat Mokong

0
8

AKBP Shinto Bina Gunawan Silitonga Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, sedang menginterogasi ketiga terapis yang digerebek di panti pijat ‘Fajar ANTIKA’ yang terletak di jalan Ngagel . (Radar Online.id/Jumiati)

Radar Online.id, SURABAYA – Pengelola panti pijat satu ini benar-benar mokong. Imbauan wajib tutup menjelang hari Kemerdekaan oleh pemerintah tidak dihiraukan. Terbukti mereka ngotot beroperasi. Bahkan aktivitas plus-plus pun dilayani oleh panti pijat ‘Fajar ANTIKA’ yang terletak di jalan Ngagel, Surabaya ini.

Saat digerebek petugas, panti pijat ini sedang melayani para pelanggannya. Ninsih (51) pengelola memanfaatkan para terapisnya untuk melakukan praktik tersebut.

Praktek ini dibongkar polisi, setelah melakukan pengamatan dan pengecekan beberapa kali. Penggerebekan itu sendiri, akhirnya dilakukan pada Senin (15/8) sore bulan lalu.

Saat digerebek, Ningsih sempat kaget melihat beberapa polisi tiba-tiba datang dan menggeledah satu persatu bilik kamar yang ada di panti pijat miliknya. Diantara degup kencang suara musik dangdut koplo yang dimainkan, polisi berhasil menemukan tiga pelanggan yang sedang menikmati layanan plus-plus.

Bahkan, satu diantaranya tidak menyadari saat polisi masuk secara paksa ke bilik panti pijat itu. ”Mereka langsung kami data dan kami bawa ke Mapolrestabes untuk diamankan,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Bina Gunawan Silitonga, Selasa (16/8).

Shinto menjelaskan, selain mengamankan tiga pelanggan yang ada di lokasi penggrebekan. Pihaknya juga meringkus pemilik dan tiga terapisnya. Korps berbaju cokelat itu juga menutup panti pijat Fajar ANTIKA secara paksa.

Dia menambahkan dalam sehari panti pijat ini bisa melayani sedikitnya tujuh orang pelanggan. Tarifnya berbeda-beda. Untuk pijat urat biasa dibandrol Rp100 ribu sekali pijatan. Kurang lebih satu jam layanan itu dilakukan.

Nah, untuk plus-plus, harganya bisa dikondisikan. Menurut Shinto, tarip harga untuk layanan pijat plus-plus langsung kepada terapisnya yakni Rp300 ribu.

“Jadi, pelanggan langsung melakukan negosiasi harga di bilik panti pijat itu. ‘Hasilnya nanti pemilik mendapat sepersekian persen dari layanan itu, sepenuhnya tergantung terapis,” terang Shinto.

Sementara itu, Ninsih berdalih, dirinya membuka panti pijat itu sepenuhnya karena permintaan konsumen.

“Selain itu, saya juga kasihan terhadap terapis-terapisnya yang tidak punya uang,” akunya.

Hal itu langsung dibantah oleh salah satu terapisnya bernama JA (33). Menurut perempuan asal Tulung Agung itu, dia terpaksa bekerja menjadi terapis pijat plus plus karena terdesak kebutuhan ekonomi.

Atas terbongkarnya kasus ini, kini, Unit PPA masih terus mengembangkan berbagai temuan, baik di lapangan ataupun dari interogasi dengan pemilik dan ketiga terapis.

”Masih terus didalami, apakah ada unsur pemaksaan dari pemilik atau tidak, saat melayani tamu selama ini,” tandas Shinto.

Kini para terapis beserta pengelolanya di amankan di Mapolrestabes dan pengelolanya akan disangkakan mempermudah untuk dilakukan perbuatan cabul atau mengambil keuntungan dari pelacuran perempuan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 296 KUHP dan atau 506 KUHP, dengan ancaman pidana paling lama satu tahun empat bulan penjara. (Jumiati)