Suami Segera Laporkan PNS Pemprov Jatim yang Selingkuh

RadarOnline.id, SURABAYA – Abdul Rohim masih trauma dengan perselingkuhan yang dilakukan oleh sang istri, Desi Kusumaningati, PNS yang berdinas di Inspektorat Pemprov Jatim. Dia berencana mengadukan kasus itu ke Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, karena laporan ke Inspektorat Jatim, tempat istrinya berdinas tidak digubris.

”Hari jumat kami akan mengirimkan pengaduan ke gubernur Jawa Timur dan ditembuskan ke ombudsman Jatim karena laporan kami tidak digubris,” kata Rahadi Sri Wahyu Jatmika, pengacara Abdul Rohim pada Rabu (15/6).

Rahadi menilai Inspektorat Jawa Timur terkesan membiarkan kasus perselingkuhan tersebut. Padahal, bukti hubungan gelap antara Desi dengan Nurhadi cukup kuat. ”Yang pertama kami ada foto mereka berdua dan juga ada tanda tangan kesaksian warga saat penggerebekan di Semambung, Sedati,” katanya.

Bahkan, dari kabar yang diterima Abdul Rohim, Desi dan Nurhadi sudah menikah secara siri. Selain trauma, bapak dua anak itu juga syok karena malu dengan tetangga sekitarnya. ”Yang jelas Abdul Rohim syok karena malu dengan tetangga sekitarnya,” katanya lagi.

Rahadi mengaku kliennya memang sempat diundang untuk klarifikasi di kantor Inspektorat Jatim beberapa waktu lalu. Akan tetapi, dalam surat undangan itu tercantum klarifikasi permohonan cerai, sehingga tidak sama dengan kasus yang diadakan oleh kliennya. ”Ini tidak ada hubungannya. Klien kami kan melaporkan kasus perselingkuhan dengan membawa barang bukti. Kenapa kok dalam surat panggilan ditulis permohonan perceraian Desi,” tandasnya.

Rabu, 15 Juni 2016, pukul 21:53 WIB, Abdul Rohim masih trauma dengan perselingkuhan yang dilakukan oleh sang istri, Desi Kusumaningati, PNS yang berdinas di Inspektorat Pemprov Jatim. Dia berencana mengadukan kasus itu ke Gubernur Jawa Timur Soekarwo, karena laporan ke Inspektorat Jatim, tempat istrinya berdinas tidak digubris.

”Hari jumat kami akan mengirimkan pengaduan ke gubernur Jawa Timur dan ditembuskan ke ombudsman Jatim karena laporan kami tidak digubris,” kata Rahadi Sri Wahyu Jatmika, pengacara Abdul Rohim pada Rabu (15/6).

Rahadi menilai Inspektorat Jawa Timur terkesan membiarkan kasus perselingkuhan tersebut. Padahal, bukti hubungan gelap antara Desi dengan Nurhadi cukup kuat. ”Yang pertama kami ada foto mereka berdua dan juga ada tanda tangan kesaksian warga saat penggerebekan di Semambung, Sedati,” katanya.

Bahkan, dari kabar yang diterima Abdul Rohim, Desi dan Nurhadi sudah menikah secara siri. Selain trauma, bapak dua anak itu juga syok karena malu dengan tetangga sekitarnya. ”Yang jelas Abdul Rohim syok karena malu dengan tetangga sekitarnya,” katanya lagi.

Rahadi mengaku kliennya memang sempat diundang untuk klarifikasi di kantor Inspektorat Jatim beberapa waktu lalu. Akan tetapi, dalam surat undangan itu tercantum klarifikasi permohonan cerai, sehingga tidak sama dengan kasus yang diadakan oleh kliennya. ”Ini tidak ada hubungannya. Klien kami kan melaporkan kasus perselingkuhan dengan membawa barang bukti. Kenapa kok dalam surat panggilan ditulis permohonan perceraian Desi,” tandasnya.

Rahadi meminta agar Desi diberikan sanksi yang tegas karena melanggar etika sebagai aparatur negara. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 tahun 1990 tentang Perkawinan dan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) disebutkan bahwa PNS dilarang selingkuh, melakukan pernikahan siri, atau “kumpul kebo”.

Apabila terbukti sanksinya bisa sampai pemecatan secara tidak hormat. ”Kami menginginkan agar ada tindakan tegas karena dia sebagai pejabat publik. Dalam PP 43 kan sudah diatur adanya sanksi yang tegas,” pungkasnya.

Sebelumnya, Inspektorat Provinsi Jatim telah menerjunkan tim untuk mengusut tuntas kasus dugaan perselingkuhan yang dilaporkan suami dari PNS Inspektorat bernama Desy Kusumaningati (36).

“Kami sudah menerjunkan tim sejak Februari 2016 ke lingkungan setempat RT/RW untuk mengumpulkan bahan untuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Tapi sayangnya suaminya Desy ini ketika dipanggil pertama datang hanya sebentar dan panggilan kedua serta ketiga tidak mau datang lagi,” kata Inspektorat Jatim Nurwiyatno.

Sementara itu pihaknya akan berusaha mendamaikan secara kekeluargaan. Tetapi kalau pihak suami tidak mau diklarifikasi, sama halnya menyetujui untuk perceraian dan laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diadukan istrinya Desy.

“Kami sudah panggil saudari Desy, yang bersangkutan ini telah dituduh selingkuh oleh suaminya. Tapi Desy bilangnya ingin cerai karena tidak kuat mengalami KDRT. Kami tidak ingin dibilang membela anak buah. Tapi harus benar-benar diusut yang benar seperti apa,” ujarnya.

Sementara itu, dari data yang dimiliki Inspektorat, kata Nurwiyatno, kasus ini bermula ketika awal Februari 2016, Desy menggugat cerai suaminya. Selain menggugat cerai, Desy juga sempat melaporkan suaminya Abd Rohim ke Polsek Wonocolo, Surabaya.

Dalam laporan polisi bernomor STTLP/08/1/2016/JATIM/RESKRIM/SEK WNCL itu, Desy menuduh suaminya melakukan KDRT. “Atas laporan ini, kami kemudian memanggil Desy untuk di BAP. Kami juga memanggil suaminya, sayangnya tiga kali panggilan suaminya tidak datang, sempat datang sekali tapi hanya 15 menit belum sampai kami tanya sudah pulang,” imbuh mantan Pj Walikota Surabaya ini. (Harifin)