Jaksa Beberkan Kronologi Pembunuhan Salim Kancil

Surabaya, Radaronline   –  Kepala Desa Selok Awar-Awar, Hariyono, pelaku pembunuhan aktivis Salim alias Kancil dan Tosan jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Surabaya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), M. Na’imullah dari Kejaksaan Negeri Lumajang, membacakan dakwaan terhadap Hariyono yang dengan sadis menghabisi nyawa Salim Kancil dengan bamboo, batu dan cangkul. Kronologis dakwaan yang dibacakan JPU membuat pengunjung sidang menggelengkan kepala.

Tersangka Hariyono didakwa pasal berlapis, yakni pembunuhan dan penganiayaan berencana terhadap Salim alias Kancil dan Tosan. Selain itu, ia juga terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam berkas penambangan illegal. Dalam berkas pembunuhan, Hariyono disidangkan bersama dengan Ketua Tim 12, Madasir (66).

JPU Na’imullah menjelaskan, sehari sebelum menghabisi Salim, Hariyono dan Madasir sempat bertemu. Saat itu, Madasir melaporkan jika warga kontra tambang akan menggelar aksi demo. Mereka menolak adanya penambangan dilokasi wisata yang masuk wilayah Desa Selok Awar-Awar. Disampaikan JPU, demo yang akan digelar warga karena sebelumnya Hariyono berjanji akan menutup tambang, namun tidak juga dipenuhi.

Dari dakwaan pula diketahui Madasir kerap melontarkan kalimat provokasi. Seperti  “Apa kita akan diam saja” dan “Bila Tosan demo dan lewati balai desa, bunuh saja”. Kalimat-kalimat itu disampaikan ke Hariyono. Hariyono lantas menyetujui dan meminta warga pro tambang untuk mengeroyok dan membunuh Tosan dan Salim Kancil.

“Saya akan gerakkan orang-orang untuk bunuh orang itu,” ujar Jaksa menirukan seruan Hariyono.

Akibatnya, Sabtu 26 September 2015, dipimpin Madasir puluhan warga pro tambang mendatangi Tosan di rumahnya. Tosan yang saat itu tengah berada di teras, diseret hingga berada jarak empat meter dari rumah. Oleh Madasir, Tosan dipukuli, ditendang dan dicangkul kepalanya. Sempat kabur, Tosan kembali dihajar dengan cara dipukul dan dilindas sepeda motor milik Madasir dalam kondisi badan tengkurap.

“Karena mengira Tosan sudah meninggal, rombongan lalu meninggalkan lokasi dan bergerak ke rumah Salim Kancil,” jelas Na’im.

Setibanya di rumah Salim Kancil, Madasir dan rombongan menghajar aktivis lingkungan itu. Tak hanya dengan tangan kosong, mereka juga memangsa Salim menggunakan kayu, batu, bambu dan cangkul.

Bahkan lebih sadisnya, tangan Salim sempat diikat dan tubuhnya diseret menggunakan sepeda motor sejauh satu kilometer. Aksi keji itu berlangsung hingga balai desa. Disana, Salim kembali disiksa menggunakan setrum.

“Kemudian korban dibawa ke makam sekitar balai desa dan dilempari batu, ditendang, dipukuli hingga tewas,” beber Jaksa.

Akibatnya, Hariyono dan Madasir dijerat pasal berlapis dengan ancaman maksimal pidana mati. Pasal tersebut yakni Pasal 338 KUHP, Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, serta Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan.

Penghasilan Hariyono dari Penambangan.

Tak hanya membongkar kesadisan Kades Hariyono, Jaksa juga membeber pendapatan kades berkumis tipis tersebut dari praktik pertambangan ilegal.  Disidang kedua, Hariyono disebut meraup Rp 29 juta per hari pungutan pengerukan pasir dan portal truk pengangkut pasir.

JPU Dodi Emil mengurai, Hariyono berperangai sadis karena takut kehilangan penghasilan dari pungutan tambang pasir di desanya. Karenanya, Hariyono melakukan segala cara agar pundi-pundinya tidak terancam hilang oleh pihak lain.

Sebagaimana dakwaan, Hariyono disebut menerima Rp 18 juta dari pengerukan pasir setelah dikali per feet-nya setiap hari. Nominal itu ditambah tarif pungutan portal Rp 11 juta per harinya.  “Dengan demikian terdakwa menerima Rp 29 juta per harinya,” tegas Dodi.

Adapun ancaman pidana sesuai dengan jeratan Undang-Undang Minerba Pasal 158 dan 161 tentang pertambangan.  “Terdakwa juga dijerat dengan Pasal 3, 4, dan 5 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang,” tandas Dodi.

Menanggapi dakwaannya, Hariyono dan Madasir kompak menolak ajukan keberatan. Melalui penasihat hukumnya, Adi Riwayanto SH., Hariyono dan Madasir mempersilahkan jaksa melanjutkan sidang ke tingkat pembuktian.  “Biar segera ke keterangan saksi saja, karena sidangnya pasti akan lama,” ujar Adi.   (Harifin/Yen)

 

NO COMMENTS