Sandang Difabel Puji Lestari Tetap Semangat

0
100

RadarOnline.id, JEMBER – Puji Lestari (13), gadis penyandang difabel/cacat fisik yang beralamat di Dusun Pondok Miri, RT 03, RW 02 tidak patah semangat. Ia ingin menempuh pendidikan sampai ke tingkat tinggi. Puji yang kini duduk di bangku Sekolah Kelas 7A di Yayasan Pondok Pesantren Al-Maufi di Jalan Kyai Abdul Qudus, Dusun Jati Rejo, Desa Sido Dadi, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Puji pergi kesekolah dengan mengayuh sepeda ontel sepanjang lebih kurang 2-3 kilometer. Ia terus bersemangat dan tidak mau kalah dengan teman lainnya. Bahkan dalam memahami mata pelajaran ia menulis memakai kakinya karena kedua tangannya cacat sejak lahir. Hal ini membuat semua pihak menaruh haru dan prihatin atas apa yang di alami oleh Puji.

Puji mengungkapkan bahwa ia memiliki tiga saudara kandung. “Saya anak kedua, walau kondisi saya seperti ini, saya masih bisa menulis menggunakan kaki. Alhamdulillah masih mampu mengikuti semua mata pelajaran walaupun terkadang sering terlambat dalam segi penulisan, beruntung semua guru yang ada memahami kekurangan dalam diri saya,” ucapnya.

Iwan selaku Wali Kelas 7B, menjelaskan wali kelas 7A saat ini sedang keluar. Jadi saya yang mendampinginya. Di akui oleh semua guru semua jenis mata pelajaran Puji mampu. Namun, mata pelajaran yang paling menonjol adalah Agama. “Memang Puji suka sekali mendalami Tartil Qur,an. Di singgung apakah ada prioritas untuk Puji semua guru yang ada menjawab ada, namun untuk SPP dan uang gedung kami tidak bisa memberikannya karena itu kewenangan Pengasuh Ponpes,“ jelasnya.

Salah satu Anggota Komite, Khoirul menjelaskan untuk semua biaya keperluan sekolah, Puji mendapat bantuan sebesar Rp. 2.250.000,- (dua juta dua ratus lima puluh ribu rupiah) dari salah satu komunitas. Dan perbulannya Puji di transfer lima ratus ribu rupiah.

“Ada lagi donator dari Kalimantan Timur yang prihatin juga mereka memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah saja,” terangnya.

Sebenarnya kami yang ada di lembaga pendidikan Al-Maufi sangat prihatin sekali kepada Puji namun kami tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk membayar gaji para guru saja kami di bantu oleh para alumni sini. Cuma kami hanya bisa membantu Puji memberikan fasilitas apa yang ia butuhkan itu saja,” tutup Khoirul. (Yenny)